Home / Daerah / Advetorial : Kunjungi Desa Perbatasan RI-RDTL, Bupati Belu Willy Lay Targetkan Mahuitas Jadi Penghasil Kopi Robusta

Advetorial : Kunjungi Desa Perbatasan RI-RDTL, Bupati Belu Willy Lay Targetkan Mahuitas Jadi Penghasil Kopi Robusta

119 Kali dibaca
WhatsApp-Image-2020-03-19-at-12.57.36-e1584616436916

Bagikan Halaman ini

Atambua, penanusantara.com –  Pemerintah Kabupaten Belu di bawah kepemimpinan Bupati, Willybrodus Lay dan Wakil Bupati, JT. Ose Luan tak henti-hentinya berupaya melalui program untuk mengangkat tingkat kesejahteraan warganya.

Semenjak awal kepemimpinan pasangan yang populer dengan tagline sahabat ini berkomitmen agar dalam masa kemimpinan mereka, Masyarakat Kabupaten Belu bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.

Salah satu potensi pertanian yang bisa diangkat untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat petani antara lain budidaya tanaman kopi.

Baru-baru ini, Rabu (18/3/2020) Bupati Belu Willy Lay melakukan kunjungan kerja ke salah satu wilayah tetapnya di Desa Mahuitas, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu.

Dalam kunjungan ini, Bupati Willy meminta masyarakat setempat untuk gencar menanam kopi jenis Robusta pada setiap lahan milik masyarakat.

Permintaan untuk gencar menanam kopi ini lantaran secara geografis, letak Desa Mahuitas berada pada ketinggian 650 meter di atas permukaan laut (MDPL) dengan karakteristik tanah yang cocok dengan tanaman kopi jenis robusta.

Sedangkan khusus tanaman kopi jenis Arabica seperti di Timor Leste, memiliki karakteristik berbeda karena akam hidup pada daerah ketinggian 900 MDPL.

Hal ini dimaksudkan agar suatu waktu masyarakat Desa Mahuitas memiliki komoditi unggulan Kopi Robusta yang akan menjadi sumber kehidupan perekonomian masyarakat.

Bupati Belu Willy Lay mengatakan, Desa Mahuitas memiliki luas lahan 910 hektare namun jumlah penduduk hanya 140 KK saja artinya setiap KK wajib mengolah lahan seluas 2-3 hektare dan harus rajin bekerja.

“Masyarakat harus menggarap lahan yang kosong dan setiap 1 hektare lahan wajib ditanami kopi robusta serta kepada masyarakat jangan biarkan lahan tidur sehingga harus digarap dan tanam dengan kopi, jagung, kelor dan rumput gajah untuk pakan ternak,” pinta Bupati Willy Lay.

Untuk diketahui, dilansir dari wikipedia, Kopi Robustas (nama Latin Coffea canephora atau Coffea robusta) merupakan keturunan beberapa spesies kopi, terutama Coffea canephora. Jenis kopi ini tumbuh baik di ketinggian 400-700 m dpl, temperatur 21-24° C dengan bulan kering 3-4 bulan secara berturut-turut dan 3-4 kali hujan kiriman. Kualitas buah lebih rendah dari Arabika dan Liberika.

Tanaman ini memiliki sistem akar yang dangkal dan tumbuh menjadi pohon atau perdu hingga mencapai 10 meter. Masa berbunganya tidak teratur dan membutuhkan sekitar 10-11 bulan bagi buahnya untuk masak, hingga menghasilkan biji kopi yang diinginkan.

Kopi robusta menghasilkan lebih banyak panen daripada jenis arabika, dan mengandung lebih banyak kafein, yakni 2,7 persen dibandingkan dengan arabika yang mengandung 1,5 persen saja.

Selain itu, robusta juga lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit, sehingga membutuhkan lebih sedikit herbisida dan pestisida daripada perkebunan arabika.

Dukung Perdes Kandangnisasi

Dalam kunjungan kerja ini, ada permintaan warga untuk pengadaan ternak sapi.

Menanggapi permintaan ini, Bupati Willy Lay menegaskan bahwa masyarakat harus siap terlebih dahulu terutama memastikan ketersediaan pakan ternak yang cukup.

“Kami kerapkali mendapati masyarakat menerima bantuan bibit ternak sapi namun tidak mampu mempertanggungjawabkannya karena banyak ternak yang mati dan hilang karena tidak ada pakan yang cukup, bahkan jumlah bantuan pun telah melebihi jumlah penduduk namun tidak ada kemajuan,” jelas Bupati Belu Willy Lay.

Pihaknya juga menyetujui akan hadirnya sebuah peraturan desa yang mengatur tentang kandangnisasi semua ternak milik masyarakat karena banyak keluhan warga akan ternak yang dilepas memakan habis tanaman milik masyarakat.

“Sesuai laporan dari Camat Lamaknen bahwa masyarakat mengeluhkan ternak sapi yang tidak dikandangkan sehingga kami melalui BPD bersama tokoh adat sementara menggodok sebuah perdes khusus yang mengatur ternak wajib dikandangkan, agar tidak memakan habis makanan ternak, ” terang Bupati Belu Willy Lay.

Terkait permasalahan infrastruktur jalan pada jalur sabuk merah sepanjang perbatasan Indonesia-Timor Leste, terutama pada beberapa titik yang bermasalah yang menyebabkan lakalantas.

Bupati Willy Lay mengatakan bahwa pihaknya sangat paham terhadap sejumlah titik ruas jalan yang mengalami kerusakan karena kondisi tanah labil dan mudah terkikis air saat musim hujan.

Pihaknya telah meminta kepada Politeknik Negeri Kupang untuk melakukan kajian teknis terhadap kondisi jalan namun hasilnya belum diperoleh karena tim teknis di NTT hanya 1 saja yang melayani permintaan dari daerah lainnya.

“Kami telah meminta kajian teknis dari Tim Politeknik Kupang namun belum menerima hasil kajiannya karena masih mengantri dengan daerah lainnya, agar kami tidak salah langkah dalam mengambil tindakan perbaikan titik ruas jalan yang rusak,” ujar Bupati Lay.

Pihaknya tidak menginginkan Kepala Dinas teknis, PPK dan pelaksana proyek tidak melakukan melakukan kesalahan dan kerja sesuai tupoksi agar tidak bermasalah dengan hukum.

Dalam kunjungan Bupati Belu Willybrodus Lay bersama pimpinan OPD disambut oleh masyarakat Desa Mahuitas dan Camat Lamaknen, Roni Mau Luma dengan lantunan adat dan tarian likurai. (Advetorial Pemkab Belu)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini