Home / Daerah / Betapa Indah  Pulau Siput-Awulolong Jadi Destinasi Wisata Konservasi Dunia

Betapa Indah  Pulau Siput-Awulolong Jadi Destinasi Wisata Konservasi Dunia

135 Kali dibaca
WhatsApp Image 2019-03-22 at 5.34.30 PM

Bagikan Halaman ini

Lewoleba, penanusantara.com – Mengapa di Teluk Kota Jakarta, Pemerintah DKI Jakarta begitu gencar membentuk “pulau buatan” (program reklamasi)  nan indah mempesona dengan biaya Triliunan.  Bukan saja untuk dihuni. Tapi juga sebagai pusat wisata yang menarik. Lembata harus bangga punya pulau alami. Mengapa kita di Lembata, dengan Pulau Siput-Awulolong  nan alami dengan pasir putih indah dihuni jutaan siput yang merupakan pemberian cuma-cuma dari Tuhan, Sang Pencipta untuk dikuasai oleh manusia dan dikelola secara arif dan bijaksana untuk kesejahteraan masyarakat  tanpa merusak ekologi dipersoalkan. Kini, Pemerintah Kabupaten Lembata, yang dinakhodai duet Bupati, Eliaser Yentji Sunur dan Wakil Bupati, Thomas Ola, menempatkan Sektor Pariwisata sebagai “Leading Sectors”. Karena itu, Pulau Awulolong yang lazim disebut Pulau Siput hendak dijadikan sebagai obyek Wisata Konservasi. Artinya, dikelola secara baik dan bertanggungjawab. Dikelola sebagai destinasi wisata dengan pendekatan  budaya dan kearifan lokal yang tidak merusak lingkungan. Bahkan nantinya,pencurian pasir yang marak oleh oknum tertentu dapat dicegah. Mari kita berpikir positif atas langkah terobosan Pemkab Lembata ini.

Gagasan cermerlang dan brilian Pemkab Lembata membangun “Kolam Apung” di Pulau Awulolong dengan berbagai sarana dan prasarana berhadapan dengan pro dan kontra segelintir kelolompok masyarakat setempat. Persoalannya, masih kurang sosialisasi ke publik. Namun ada titik terang, karena ada sejumlah suku mendukung langkah pemerintah membangun Kolam Apung di Pulau Siput demi kemajuan pembangunan pariwisata di Kabupaten Lembata tanpa menghilangkan budaya mencari siput masyarakat setempat. Berikut ulasan, Karolus Kia Burin, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lembata.***

Membangun daerah, khususnya Kabupaten Lembata, tidak bisa lepas dari rencana pembangunan nasional, karena kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pariwisata sebagai sektor yang ditargetkan secara nasional untuk peningkatkan devisa negara. Ibarat gayung bersambut, membangun pariwisata di Lembata harus bersinergi dengan Pemerintah Pusat. Karena, Kabupaten Lembata adalah bagian integral dalam pembangunan nasional yang memiliki potensi alam, buadaya yang beragam, unik dan menarik disektor pariwisata.

Pemerintah Kabupaten Lembata, melalui Dinas Kebudayaan  dan Pariwisata memang harus kreatif dan inovatif berupaya secara optimal dalam pengembangan dan penataan Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang Visitable dan Marketable dengan mengeksplore potensi dimaksud untuk ditampilkan sebagai Image Branding yang lain selain Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat  untuk Kepariwisataan NTT, Nasional dan Dunia agar menjadi The New Destinationn Tourism.  Dalam rangka menciptakan Lembata sebagai The New Destination Tourism, diperlukan penataan dan pengembangan sektor pariwisata yang tepat dalam desain arah kebijakan, arah pembangunan dan strategi serta penguatan perencanaan pembangunan pariwisata Kabupaten Lembata yang sinergi dengan kebijakan kepariwisataan nasional.

Produk wisata yang dikembangkan di Kabupaten Lembata (alam, buadaya dan buatan) diantaranya; alam, wisata bahari, adventure, extreme, budaya, warisan budaya dan sejarah, kuliner travel village, budaya even, wisata sport integrrated tourism. Pulau Siput yang terkenal dengan nama Awulolong juga merupakan subuah pulau alami yang mesti dikelola, ditata sebagai “Wisata Konservasi” yang unggul dan menarik dengan mebangun ‘Kolam Apung” dengan berbagai fasilitas dan sarana pendukung. Kolam Apung yang bakal rampung dibangun itu, punya daya tarik sendiri bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Wisatawan dapat menikmati indahnya pulau siput berpasir putih dan masyarakat setempat dapat mencari siput atau kerang sebagimana biasa, sesuai  budaya yang turun temurun. Bahkan buadya ini patut dilestarikan.  Budaya masyarakat mencari siput pun tidak akan hilang dengan kehadiran  Kolam Apung dan fasilitas yang tersedia.

Dinamika dan proses pembangunan destinasi wisata konservasi di Pulau Siput-Awulolong, diakui belakangan ramai diperbincangkan oleh berbagai pihak. Diskusi ini amat penting, karena berbagai pikiran cemerlang dari pihak manapun menjadi referensi bagi Pemerintah Kabupaten Lembata untuk menyukseskan pembangunanan Kolam Apung yang sempat menuai pro dan kontra. Bahkan Sahabat, Justin Wejak, putra Lembata, yang kini dosen di Australia memberikan pendapat menarik melaui surat kepada Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, bahwa prinsipnya pembangunangan Kolam Apung dapat dilakukan diawali dengan survey historis tentang Pulau Awulolong.

Forum Penyelamat Lewotana Lembata (FP2L) dengan Koordinator Ali Kedang, dan Aliansi Rakyat Lembata Menggugat (ASTAGA) serta Aliansi Pemuda Peduli Rakyat Lembata (APPERAL), dipimpin Abdul Gafur R. Sarabiti bersama puluhan masyarakat nelayan pantai Lewoleba melakukan aksi demonstrasi damai meminta penjelasan Pemerintah Kabupaten Lembata dan DPRD Lembata terkait rencana pembangunan Kolam Renang Apung. Sekelompok nelayan mengatakan mendapat informasi bahwa Pemda Lembata akan membangun Hotel Terapung atau Restoran terapung. “Hari-hari ini kami hidup hanya dari hasil laut termasuk berkarang (mencari siput) di Awulolong. Kalau pemerintah bangun hotel atau restoran/kolam disana, terus kami harus cari makan dimana lagi. Kami belum dapat penjelasan resmi dari pemerintah,” ungkap nelayan.

Dalam audensi dengan sejumlah kelompok aksi damai diruang rapat Bupati Lembata, Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola mengatakan, terhadap simpang siurnya informasi yang diterima masyarakat terkait pembangunan yang akan dilakukan di Awulolong, Pemkab Lembata selalu siap untuk bertemu dengan kelompok masyarakat yang hendak mengetahui apa latar belakang sampai dengan apa manfaat dari pembangunan Kolam Apung di Awulolong. “Disamping kegiatan sosialisasi yang akan terus dilakukan oleh Dinas teknis, silahkan kelompok masyarakat yang merasa membutuhkan informasi dapat mendatangi Kantor Bupati Lembata. Kita akan paparkan secara lisan dan visual. Tentunya pembangunan yang akan dilakukan tidak sekalipun menghilangkan akses masyarakat untuk  beraktivitas di Awulolong,” ujar Wabup Thomas.

Pemerintah Kabupaten Lembata, urai Thomas Ola, mengakui sudah melewati semua proses terkait pembangunan Jeti Apung dan Kolam Renang di Pulau Siput. Sejak dari proses perencanaan, pelelangan, pengumuman pemenang, pelaksanaan proyek, sampai pada tahan evaluasi dan monitoring termasuk tahan sosialisasi. Menyangkut sosialisasi, lanjut Thomas, telah dilakukan oleh Pemda kepada masyarakat. Bahkan sosialisasi dilakukan sejak perencanaan awal di tahun 2018. Meski demikian, menurut Wabup Thomas, diakui bahwa sosialisasi belum maksimal dan belum tepat sasaran sehingga perlu ditingkatkan. Mungkin masyarakat yang lebih dekat dengan Awulolong itu belum mendapatkan informasi. Ketika sosialisasi dilakukan di kelompok masyarakat tertentu semuanya merespons dengan baik.

Wakil Bupati Lembata, Thomas ola menegaskan, proses pembangunan Kolam apung dan Jembatan Titian (JETI) Apung di Pulau Siput, meski mendapat kritikan sekelompok orang tetap akan dilanjutkan sesuai perencanaan. ‘Tetap dilanjutkan sesuai perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Pemda Lembata tetap komitmen  dan konsisten dengan tahapan pembangunan yang ada”, tegas Thomas.

Dijelaskan, terkait aksi protes kelompok masyarakat, Pemda Lembata akan terus melakukan pendekatan persuasip untuk meyakinkan masyarakat akan manfaat dari proyek bernilai sekitar 7 Miliar ini. Pihak kontraktor pelaksana akan terus melakukan pengerjaan proyek ini sesuai dengan waktu yang ditetapkan dalam kotrak kerja hingga Maret 2019.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata, pekerjaan proyek pembangunan destinasi pariwisata Awulolong seharusnya sudah selesai dikerjakan per 31 Desember 2018. Hanya saja karena berbagai kendala dan diberi tambahan waktu atau Adendum selama 90 hari kerja terhitung 1 Januari 2019 sampai dengan Maret 2019.  Data dari Disbudpar dan LPSE menyebutkan, ada sebanyak empat perusahaan yang memenangkan proyek ini. Keempat perusahan itu adalah, PT. Kunindo Panorama Konsultan, PT. Cahaya Putra Lembata, PT. Siarplan Utama Konsultan dan PT Bahana Krida Nusantara.

Wabup Thomas Ola juga menjelaskan soal manfaat pembangunan Jeti Apung  di Pulau Siput. Dari aspek ekonomi, kehadiran wisatawan domestik dan mancanegara menikmati Pulau Siput-Awulolong sebagai obyek Wisata Konservasi yang jelas membayar segala fasilitas dan saran yang tersedia tentu berdampak meningkatkan pendapatan daerah. Menikmati kuliner dan berbelanja cindramata dan berbagai produk kerajinan masyarakat akan meningkatkan pendapatan masyarkat. Belum lagi lama tinggal di Lembata, pasti harus menginap di hotel, yang secara ekonomis uang beredar di Lembata. Ada juga manfaat pengetahuan budaya dan pengetahuan bahari.

“Saya ,membayangkan Pulau Siput itu suatu saat akan menjadi tempat unik untuk riset atau penelitian. Bagaimana orang datang melakukan penelitian soal Siput (Kerang)  yang ada di Awulolong. Selain itu juga orang bisa berwisata bukan saja bahari tetapi juga Wisata Budaya,” ujar Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola.

Rencana  Pengembangan Wisata Konservasi Pulau Siput Awulolong, dirancang dalam nomenklatur Program Pengembangan Destinasi Wisata dan Kegiatan Peningkatan Pembangunan Sarana dan Prasarana Pariwisata (Belanja Modal Perencanaan Teknis Pembangunan Pusat Kuliner di Pulau Siput Awulolong.  Sarana dan prasarana itu antara lain, Dermaga Apung  HDPE atau Jembatan Titian (Jeti). Komponennya berupa Kubus Apung atau Modular Float System adalah produk inovatif-kreatif dengan fitur yang serbaguna dan multifungsi dimana produk ini berbentuk kubus dan dapat mengapung. Produk ini didesain dengan sangat aman dan ramah lingkungan, dimana dengan menggunakan material HDPE yang sangat kuat.

Produk ini anti sinar UV dan dapat didaur ulang dan mempunyai life time yang panjang karena material tersebut anti korosi. Produk ini memiliki 4 konstruksi penghubung disetiap sudutnya yang berfungsi untuk menghubungkan dengan satu sama lain sehingga dapat dibongkar-pasang dengan sangat mudah untuk menyesuaikan desain yang diinginkan. Produk ini sangat berguna dan multifungsi karena dapat menunjang beberapa bidang pekerjaan yaitu untuk dermaga apung , jembatan apung, rumah apung dan support pekerjaan engineering. Jika rampung dibangun, betapa indahnya Pulau Siput dengan dermaga apung yang dapat dimanfaatkan bagi wisatawan sambil berenang di Kolam Apung.

Pulau Siput Berpasir Putih Hanya Ada di Lembata

Pulau Siput, lazim disebut oleh masyarakat Lembata sebagai Pulau Awulolong. Sebuah pulau indah berpasir putih  terletak didepan Teluk Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata. Menarik memang pulau yang satu ini. Meski tanpa berpenghuni dan tak satu pun tumbuhan yang hidup , karena hanya berupa bentangan pasir panjang dan luas itu, hanya menjadi habitat aneka siput dan kerang.

Kawasan destinasi wisata Lewoleba, termasuk Pulau Siput,  dan sekitarnya sangat mudah untuk dieksplorasi karena letaknya berdekatan dengan  kota Lewoleba sebagai tempat menginap wisatawan selama berada di Kabupaten Lembata. Masyarakat Lembata selama ini, hanya memanfaatkan Pulau Siput sebagai ladang menggali rezeki mencari siput dan kerang. Ternyata, Pulau Siput, punya daya tarik wisata yang dapat dieksplore, yang  letaknya di bagian utara kota Lewoleba. Untuk menjangkau pulau ini wisatawan dapat menggunakan perahu motor dari kota Lewoleba dengan jarak tempu sekitar 25 menit. Tapi jika menggunakan kapal cepat, parti tidak lebih dari 7 menit.

Pulau ini luar biasa ‘ajaib”. Mengapa? Karena pulau unik ini hanya muncul pada saat pasang surut dan dijumpai beraneka ragam siput baik yang bertebaran diatas pasir putih, maupun yang terbenam dalam pasir. Untuk mendapatkannya, orang mesti mengorek dengan tangan, kayu atau linggis. Wisatawan yang mengunjungi pulau ini dapat melalukan berbagai aktivitas rekretif, mandi, menyelam, bermain pasir dan berjemur dihamparan pasir putih itu. Sambil menikmati keindahan panorama teluk Lewoleba yang diapiti ole dua gunung yang menjulang tinggi yakni Ile Lewotolok (Kecamatan Ile Ape Timur,Kabupaten Lembata) dan Ile Boleng, di seberang Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur.

Orang nomor satu Dinas Kebudayaan da Pariwisata Kabupaten Lembata, Apolonaris Mayan, S.pd mengungkapkan hal dalam sebuah wawancara khusus diruang kerjanya, pecan lalu di Batas Kota Lewoleba. Menurutnya, pulau unik ini punya daya pikat untuk wisatawan. Karena itu, mesti dikelola secara baik dan bertanggungjawab demi kemajuan Lewotana Lembata, dan kesejahteraan masyarakat.

Kebijakan pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata di Kabupaten Lembata, jelas Apol, Mayan, sudah sesuai dengan dengan visi-misi Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur dan Wakil Bupati , Thomas Ola yang telah dikemas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) berdasarkan Perda Nomor 9 Tahun 2017 tentang  RPJMD 2017-2022. Karenanya, Pulau Siput sebagai obyek wisata potensial,sudah saatnya dikelola secara baik dan bertanggungjawab.

Pembangunan destinasi Pulau Awulolong sebagai obyek wisata potensial berdaya pikat dunia memang harus dikelola dan dipoles dengan berbagai sarana dan prasarana wisata yang memadai. Antara lain, membangun Resort Apung dan dilengkapi dengan Kolam Renang Laut. Wisatawan dapat menikmati hidangan siput, dan memanfaatkan  berbagai fasilitas yang ada yang direncanakan menelan dana sekitar 7 miliar. Prinsip pembangunannya, demikian Apol Mayan, dengan tidak merusak ekosistem dan lingkungan hidup pulau itu. Artinya, jelas Apol, kearifan local dan budaya masyarakat dengan leluasa mencari siput dibiarkan tetap berlangsung. Kita butuh waktu untuk memberikan sosialisasi, pemahaman dan edukasi kepada masyarakat agar memaknai filosofi pembangunan serta penataan obyek wisata kornservasi unggulan ini.

Kearifan local, dan tradisi budaya masyarakat tetap dilestarikan seiring  dengan langkah revitalisasi budaya yang ada dalam masyarakat kita. Kita tetap hormati budaya masyarakat memncari siput, tapi alam tidak dirusakan dan bahkan tetap terpelihara dengan baik. Hal ini telah sesuai dengan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Mari kita tata pulau siput ini semakin indah dan unik, tanpa merusak ekosistem agar agar tetap lestari menjadi obyek wisata konservasi dunia. **(Karolus Kia Burin/Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lembata) ***

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini