Home / Daerah / Cerita Paulina Fuhan dari Jeruji Besi Tahanan Polres Belu Akibat Tuduahan Terlantarkan Anak

Cerita Paulina Fuhan dari Jeruji Besi Tahanan Polres Belu Akibat Tuduahan Terlantarkan Anak

2085 Kali dibaca
Paulina Fuhan saat berada di jeruji besi tahanan Polres Belu.
Paulina Fuhan saat berada di jeruji besi tahanan Polres Belu.

Bagikan Halaman ini

Atambua, penanusantara.com – Paulina Funan tersangka kasus penelantaran bayinya yang berbuntut kematian, ketika di sambangi wartawan di dalam rumah tahanan Polres Belu, Kamis (5/3/2020 ) siang, menceritakan kisahnya tentang kasus yang menimpah dirinya.

Paulina Funan (35) merupakan warga Desa Rafae Kecamatan Raimanuk ini kini di tahan di tahanan Polres Kabupaten Belu.

Dikisahkannya bahwa mulanya dirinya berniat untuk menitipkan anak (hasil hubungan gelap dengan Pil) di panti asuhan Halilulik karena ditolak bertanggung jawab oleh suami di Malaysia, malah berbuntut pada dijebloskannya ke dalam tahanan polres Belu oleh pengasuh yang sudah mengadopsi anaknya selama 20 hari.

Paulina mengaku sangat kecewa terhadap pengadopsi anaknya yaitu saudara Robi Bria yang telah mmbuat berita bohong dan menjebloskannya kedalam Tahanan dengan kasus penelantaran anaknya.

“Saya ini sangat kecewa sekali dengan Robi Bria, sebap anak saya ini saya mau titipkan di panti asuhan Halilulik, tapi mereka (Robi Bria.red ) telepon saya dan janji mau adopsi anak saya itu sehingga anak itu saya kasih di dia, eh setelah anak itu sudah ada di mereka selama 20 hari dan meninggal, lalu salahkan saya dan kasi masuk saya di sini (sel) karena terlantarkan anak saya. Ini tidak benar sekali,” urai Paulina dengan gestur sedih.

Awal mula dikisahkan Palulina bahwa dirinya datang dari Wilayah Kaputu, Kabupaten Malaka untuk menitip anaknya di Panti Asuhan.

“Waktu itu kami dari Kaputu, Kabupaten Malaka datang untuk mau titip anak di panti asuhan karena suami saya di malaysia tidak terima dan jamin anak ini, jadi saya mau kasih masuk di panti asuhan di Halilulik sana, karena bebi lahir tidak cukup bulan (prematur), dan keadaan ekonomi yang terbatas.

Lanjut Paulina “Waktu malam, Robi Bria itu telepon bilang, kalau kakak (Paulina) mau biar kami yang rawat saja dan meyakinkan saya dengan bahasa yang baik, jadi saya percaya dan kami sepakat untuk bertemu di Motamaro besoknya untuk Robi mau ambil anak ini,”.

Setelah itu, Paulina memenuhui permintaan dari Robi Bria untuk bertemu di Cabang Motamaro.

“Setelah itu besok pagi (17/1/2020 ) saya memenuhi permintaan dari Robi untuk bertemu di cabang Motamaro, Desa Bakustulama Kecamatan Tasifeto Barat, (saya bawah juga dengan anak saya) dan ia datang dengan konjaknya sendiri, sekitar jam 1 siang. Waktu itu, Saya bilang mau ikut, tapi dia (Robi) bilang kakak tidak usah ikut sudah dan jangan kwahtir dengan ini anak karena saya akan rawat dengan baik dan pada malam harinya, dia telepon bilang kakak Paulina jangan takut karena, yang piara anak ini polisi yang dengan dia, jadi kakak jangan kuatir. terus saya bilang ia baik sudah kalau begitu,” jelas Paulina.

Usai itu, Paulina menambahkan, Pada Malam berikutnya kakak Robi menelpon dirinya dan memesan bahwa Anaknya sudah berada di tangan mereka.

“Dia punya kakak telepon saya dan bilang, mama, anak ini sudah di tangan kami, dan kami anggap ini kami punya anak kandung sudah, jadi orang tua kandung tidak tau apa-apa lagi. terus saya bilang, yang penting dia sehat saya ikut senang,” tambahnya.

Menurut Paulina, Setiap kalinya dirinya menelpon Robi menanyakan kabar anak itu tetapi jawabaan Robi bahwa anak itu baik-baik dan sehat-sehat saja.

Dirinya juga heran, tiba-tiba anaknya meninggal dan menuduh dirinya yang telah melantarkan anaknya.

“Terus tiba-tiba bayi itu meninggal, dan mereka bilang saya terlantarkan anak saya dan pi jemput saya di kampung (Desa Rafae) dengan polisi. Ini bagaimana yang ini ni ?,” kisah Paulina dengan penuh tanya.

Paulina melanjutkan, Dirinya tidak pernah mengetahui kalau anaknya itu tidak sehat.

“Saya juga tidak tau, kalau bebinya tidak sehat (sakit), dong juga (Robi dan kakaknya) tidak pernah telepon kita untuk beritau bilang anak itu ada sakit. ini tiba-tiba bebi meninggal terus dong datang ambil saya dengan polisi bilang saya terlantarkan anak, ini bagaimana?

Hal ini tentu menjadi tandatanya bagi Paulina dikarenakan, Robi ambil anaknya pada tanggal 17 Januari 2020 dan tinggal bersama mereka selama 20 hari dan pada tanggal 06 Februari 2020, anak itu meninggal.

“Karena ini bayi bukan meninggal di tangan saya, tapi di tangan mereka. terus, tiba-tiba bayi meninggal, lalu dong (mereka) datang ke saya ambil saya dengan polisi dan katakan saya yang terlantarkan atak itu. yang terlantarkan anak itu saya atau dia (Robi dan kakaknya),” ucap Paulina dengan nada kesal.

“Saya juga, waktu ambil saya di kampung itu, tanggal 06 Januari 2020, katanya mau ambil darah untuk cocokkan dengan bayinya. tapi datang juga, saya tidak sempat lihat anak itu, tidak tau kubur dimana dan kapan,” pintanya.

Oleh karena itu dirinya memohon keadilaan agar dapat ditegakan.

“Jadi, saya mohon keadilan itu tolong ditegakan pak polisi dong. Saya tidak terima sekali dengan ini. Masa Robi dengan kakanya yang sudah asuh anak itu, dan meninggal di tangan mereka dan mereka tidak bertanggung jawab, malah saya yang di salahkan dan di masukan lagi di dalam sel sini,” tutup Paulina dengan nada kecewa.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Belu Akp Sepuh Ade Irsyam yang hendak dikonfirmasi tentang kasus ini tidak berada ditempat. (*pa)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini