Debat Paslon, Argumentum ad hominem

  • Whatsapp
banner 468x60

Argumentum ad hominem

Debat pertama pasangan calon walikota & wakil walikota Kupang sudah usai. Namun perdebatan di dunia maya dan dunia nyata tentang itu belum selesai. Masih panas.
Salah satu hal yang menurut saya perlu dikritisi adalah argumentasi-argumentasi yang dibangun dalam debat tersebut.

Read More

banner 300250

Sebelum debat, sang moderator membacakan tata tertib debat. Salah satunya, argumentasi dalam debat tidak boleh menyerang pribadi/personal atau tidak boleh dengan argumentum ad hominem (argumentasi yg menyerang pribadi). Ini etika debat. Yg perlu diperdebatkan bahkan sampai berkeringat-keringat adalah visi, misi dan program sebagai calon pemimpin kota. Argumentum ad rem (argumentasi yang sesuai kenyataan).

Dalam proses debat, saya mendengar langsung bagaimana pasangan calon nomor urut 2 melanggar etika debat ini. Dalam argumentasi tentang Program Indonesia Pintar, sang calon walikota Jonas Salean menyerang calon walikota nomor urut 1, Jefry Riwu Kore dengan mengatakan “Pak Jefry tidak jujur”. Ini sudah sangat personal. Mengapa tidak membahas PIP secara gentlemen dengan tidak menyerang pribadi seseorang? Selanjutnya, argumentum ad hominem itu terjadi lagi terhadap calon wakil walikota nomor urut 1, Herman Man. Lagi-lagi dikatakan oleh calon walikota nomor 2, Jonas Salean. Menurutnya, ia mendapatkan calon wakil walikota yang baik. Sedangkan Pak Jefry mendapatkan calon wakil walikota yang buruk. Itu sama halnya ia mau mengatakan bahwa Herman Man itu calon wakil walikota yang buruk. Buruk apanya? Hanya Jonas yang tahu. Tetapi keburukan itu sudah sangat menyerang pribadi Herman Man.

Terhadap dua contoh argumentum ad hominem ini, pasangan nomor urut satu tidak balas menyerang karena mereka terikat kontrak etika debat publik. Semestinya, moderator memberikan dua kali kartu kuning alias 1 kartu merah kepada pihak yang melanggar tatib atau etika debat itu.

You are what you say. Anda adalah apa yang anda katakan. Jika kita katakan yang lain tidak jujur, jangan sampai kita lebih tidak jujur dari orang yang kita katakan. Bila kita katakan orang lain buruk, mungkin saja kita lebih memiliki keburukan (malum) dari orang yang kita katakan.

Untuk debat berikut, saran saya: pasangan nomor urut 2 belajar lagi etika debat publik. Pelototi mana argumentum ad hominem dan mana yg argumentum ad rem. Debat itu bukan lomba menyampaikan visi, misi dan program secara benar. Tetapi panggung memperlihatkan mana yang emosional, mana yang kalem. Mana yang suka menyerang pribadi, mana yang santun berargumen. Dari sisi inilah kebanyakan orang menjatuhkan referensi pilihannya.

Saya teringat petuah A.N. Whitehead, tokoh filsafat proses. If there is you don’t know to say, you must be silent.

Selamat belajar debat publik….

Oleh : Isidorus Lilijawa

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *