Home / Opini / Demokrasi Politik Di Balik Tebing Napar Pata

Demokrasi Politik Di Balik Tebing Napar Pata

535 Kali dibaca
Ramly Turu
Ramly Turu

Bagikan Halaman ini

Oleh : Ramly Turu

A Dialect is a form of a language that is spoken in an area with grammar, words, and pronunciation that may be different from other forms of the same language. Mbaen dialect spoken by people living in Sola village located. (Dialek adalah suatu Bentuk bahasa yang dituturkan di daerah dengan tata bahasa , kata-kata , dan pengucapan yang mungkin berbeda  dari bentuk-bentuk bahasa yang sama . Mbaen dialek yang diucapkan oleh orang-orang yang tinggal di kampung sola.)

Dasar pemikiran diatas maka munculah majas “KOME’N ASU NGONDE, LAIT LEMA ASU DENGANG” Slogan inilah yang menjadi titik dasar yang sering di ungkapkan oleh orang Manggarai Timur  dalam tatanan menyongsong pesta demokrasi Manggarai Timur slogan ini adalah suatu frasa Manggarai Timur yang terdapat di dialek mbaen yang di sebut, “Kome’n Asu Ngonde, Lait Lema Asu Dengang” Holman dan Harmon (1992: 287) menyatakan bahwa metafora adalah analogi yang membandingkan antara satu objek dengan objek yang lainnya secara langsung atau dengan kata lain adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara langsung. Akan tetapi Menurut Richards dan Saeed (1997: 302-303), konsep pertama disebut tenor sedangkan yang kedua disebut vehicle.

Gaya bahasa metafora dapat diterjemahkan dengan beberapa prosedur dan pendekatan yang memungkinkan. Penerjemah harus mencari padanan metafora yang tepat dan mengungkapkannya dengan makna yang sepadan. Maka klasifikasi dari methapora diatas terdapat dua frasa, pertama Komen asu ngonde memiliki makna idiom adalah rejeki yang datang untuk orang malas, yang kedua lait leman asu dengan memiliki makna idiom kemalangan bagi orang rajin akan tetapi padanan kalimat diatas jika di gabungkan menjadi “KOME’N ASU NGONDE, LAIT LEMA ASU DENGANG” memiliki makna seperti usaha yang dilakukan oleh orang rajin membawa rejeki untuk orang malas.

Menoreh kisah perjuangan demokrasi politik di lima tahun yang silam, ada ratusan asu dengan terus bergelora dari kota ke desa, hingga asu dengan pun terjerumus piluh di tebing Napar Patah, kisah itu sangat mengaruhkan. Asu dengan pun bukan hanya dari kelompok yang di pilih atau terpilih akan tetapi warga kampung yang notabene ada pengakuan sebagai keluarga dan ada seribu janji untuk kesejahteraan masyarakatpun terus menyemarakan hal demokrasi politik waktu itu. Indah dan sungguh indah bersilat lidah wahai sang pemimpin di kotaku, di manakah ingatanmu tentang “seribu janji yang kau ucapkan dulu’ kata syair lagu nostalgia di jaman 70an.

Ternyata ada jawaban yang palsu dari semua itu bahwa kemenangan asu dengan hanya di peruntukan asu ngonde. Cerita perjuangan asu dengan yang saat ini di tempatkan pada sebuah tempat yang hamparan penuh dengan bebatuan sangat mengharukan, asu dengan yang hingga saat ini masi sangat haus karena kering tenggorokan di lima tahun itu sekarang justru menelan cuka buatan mama muda.

Pengakuan dari warga kampung yang saat ini sedang menanti jatuhnya air hujan untuk membasahi lapang ladang mereka bahwa mereka muak akan pesta demokrasi, mereka tidak mau lagi mendengung dengan seribu janji sang penipu, mereka akan lebih baik menentukan pilihan mereka dengan hati nurani saja, karena itu lebih berarti demi kepuasan pemimpin di era sekarang ini.

Hingar bingar menuju pesta Demokrasi Manggarai  Timur kian memanas, isu kekuatana serta ketangguhan Bakal calon semakin menyemarak hingga ke pelosok desa, silahturahmi si bakal calon seakan semua menjadi kerabat, keluarga, bahkan hingga arwah nenek moyangpun tersenyum simpu karena kedatangan para bakal calon yang seakan warisan keturunan mereka, dalam suasana yang semakin menyemarak ini tak pernah di lewatkan sebuah ritual (teing hang) arwah nenek moyang, inilah yang menjadi titik arakan hati masyarakat yang datang secara tiba-tiba, masyarakat manggarai timur pun tidak pernah menolak itu, karenah menganggap bahwa itu semua adalah politik.

Mengapa di anggap seperti itu? masyarakat Manggarai Timur sudah sangat cerdas dalam berpolitik dan masyarakat tentunya mempunyai hati nurani yang kuat untuk menentukan pilihan mereka, apakah para bakal calon tidak pernah sadar akan hal itu? Merekapun menganggap bahwa kehadiran mereka seakan merekalah yang akan menentukan masa depan Manggarai Timur yang tercinta ini. Oh tentunya saya selaku orang muda berani untuk berkata TIDAK!!! Karena masa depan Manggarai Timur ada pada pundak Kaum Mudah. Maka harapan saya masyarakat Manggarai Timur tentunya harus membedakan mana asu ngonde dan mana asu dengan hingga yang pantas menahkodai program kabupaten Manggarai Timur kedepanya yaitu Asu Dengan.

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini