Home / Daerah / Jefri-Herman, Ayo Berubah hingga Ayo Terus Berubah

Jefri-Herman, Ayo Berubah hingga Ayo Terus Berubah

214 Kali dibaca
Jefri Riwu Kore dan Herman saat bertatao muka bersama masyarakat Kota Kupang usai di lantik sebagai Walikota dan Wakil Walikota Kupang.
Jefri Riwu Kore dan Herman saat bertatao muka bersama masyarakat Kota Kupang usai di lantik sebagai Walikota dan Wakil Walikota Kupang.

Bagikan Halaman ini

Kota Kupang, penanusantara.com Teman saya dari Bali, transit di Kupang akhir bulan lalu. Saya menjemputnya di Bandara Eltari Kupang. Malamnya, kami nongkrong asik sambil minum kopi di Bundaran Tirosa. Sepanjang diskusi ringan, pembicaraan kami hanya pada soal Kota Kupang. Beberapa kali, teman saya berujar soal ubahnya Kota Kupang, sebanding dengan kota-kota besar lain di Indonesia. “Kota Kupang adalah barometer NTT, riaspun harus setara dengan kota besar lain”, kata dia sambil meneguk kopi kemasan lima ribuan rupiah.

Membaca ucapan teman saya, penting untuk menjadikan rujukan untuk menilai kondisi Kota Kupang hari ini. Di Pemilihan Wali Kota Kupang tahun 2017 silam, sesungguhnya lawan tangguh Pasangan Jefri Riwu Kore dan Hermanus Man adalah Jonas Salean. Jonas, adalah wali kota sebelumnya, periode 2013-2017.  Duet Sabu dan Manggarai, Jefri Riwu Kore dan Herman Man, berhasil mengalahkan Jonas. Meski, perbedaan suara tidak signifikan. Jefri dan Herman yang dikenal dengan tagline FirmanMu, kemudian dilantik menjadi wali kota Kupang, periode tahun 2017—2022.

Tiga Tahun

Semakin ke sini, pembuktian Jefri dan Herman mendesain Kota Kupang semakin diterima masyarakat. Sebetulnya, diawal tahun kepemimpinan, desain taman kota dan lampu hias serta lampu jalan, dianggap tidak penting oleh beberapa pengamat. Alasan merekapun layak diterima akal sehat. Pembanguna kota tidak harus penting mendesain tata kotanya, sumber daya manusia, perang terhadap pengangguran dan kemiskinan, pelayanan kesehatan memadai, kualitas pendidikan dan birokrasi adalah soal utama. Hal itu, sepertinya didahulukan ketimbang mempercantik Kota Kupang, setara dengan kota besar lain di Indonesia. Amatan itu betul, sejujurnya visi besar yang berhasil dirangkul demi kemajuan Kota Kupang yang ramai dibicara oleh suluruh tim pemenangan FirmanMu saat pemilihan adalah, urusan sampah, air bersih dan pemberantasan kemiskinan. Selam massa kepemimpinan tiga tahun ini, sebetulnya ditangan Jefri Riwu Kore, ada banyak perubahan yang diperoleh. Dimulai dari iklim birokrasi yang sejuk. Itu urusan pertama sebagai dapur pembangunan, meski sering siku-menyikut dengan DPRD, tak soal,toh, DPRD punya fungsi control, sepanjang segala bentuk kebijakan dibicarakan bersama, itu yang menjadi urusan mutlak dalam poin-poin penerapan pembanguna di Kota Kupang. Mantan Anggota DPR RI itu, tidak pernah ambil pusing dengan sejumkah ocehan pengamat dan juga lawan politiknya. Bagi dia, urusan melayani sebagai wali kota adalah pekerjaan utama. Trobosan pun dibikin sedemikian rupa sehingga, hari ini, dalam tiga tahun massa pemerintahan, Kota Kupang setidaknya indah dipandang mata.

Ada beberapa catatan yang perlu dituliskan dalam jangka waktu tiga tahun kepemimpinan wali kota Kupang. Pertama, taman kota dan lampu hias. Akhir tahu 2018 lalu, Wali Kota Kupang menluncurkan hampir sebanyak 500 buah lampu hias dna lampu jalan. Lampu-lampu itu, terbentang hampir diseluruh pusat kota. Sekarang, kota Kupang tak lagi gelap pada malam hari, banyak orang menjadikan taman kota sebagai tempat nongkrong dan juga tidak sedikit pedagang asongan yang menjual kopi lecehan di taman-taman yag sudah dibikin bagus oleh wali kota itu.

Kedua, tranparansi dan kecekatan pelayanan publik. Jefri Riwu Kore, paham betul, terbelitnya adminiastrasi publik serta pelayanan yuang buruk bagi masyarakat akan memunculkan presen buruk. Maka, pendekatan pelayanan publik yang bagus serta selalu terkoordinasi dengan sunggh baik dan menggunakan teknologi terbaru adalah pilihan utama. Terbaru, Jefri sudah meresmikan sebuah mesin pencetak e-KTP, lebih hemat, cepat dan bahkan sudah bisa dari rumah masyarakat. Hal demikian, adalah ciri sebuah kota yang maju dan sesuai dengan permintaan zaman di era revolusi 4.0. Ketiga, trobosan top down. Kita sering melihat secara lansgung aksi nekad Jefri Riwu Kore, turun langsung ke masyarakat. Dia paham betul psikologis dan keadaan sosio kultural mayarakat kota Kupang yang ragam. Maka, aktifnya sosial media milik wali kota, melakukan siaran langsung dan mengupdate kerja wali kota adalah cara keterbukaan yang hakiki dan mau menunjukan bahwa masyarakat juga bsia melakukan kontrol atas kebijakan yang sudah dikerjakan oeh wali kota sebagai  pemimpin.

Poin-poin di atas merupakan evaluasi keseluruhan selama tiga tahun kepemimpina Jefri Riwu Kore dan Hermanus Man. Ada beberapa prestasi sebetulnya yang mesti diacungkan jempol yakni soal evaluasi BPK yang menempatkan Kota Kupang degan status Wajar tanpa Pengecualian (WTP). Status itu, laik diapresiasi kerena menjadi yang perdana semenjak Kota Kupang menjadi daerah otonom.

Ke depan

Sesungguhnya, diawal massa kepemimpinan, satu pekerjaan rumah paling urgen bagi kepemimpinan Jefri Riwu Kore dan Herman Man, yakni urusan air bersih. Seperti diawal massa kampanye, dua kanddiat itu, selalu menjadikan air sebagai sebuah janji kampanye. Meski, perlahan kini, bendungan kali dendeng dalam proses diperbaiki untuk menjadi satu-satuya sumber pasokan air bersih bagi masyarakat Kota Kupang, tentu saja, tolak ukur mengatasi kekeringan takut warga memasuki musim kemarau panjang adalah soal distribusi air bersih. Dalam kurun waktu tersisa massa kepemimpinan ini, Jefri dan Herman, harus secara sungguh membuktikan kepada masyarakat Kota Kupang soal kerja ekstra menjadikan Kota Kupang sebagai sebuah kota yang, meniru ucapan wali kota di awal kampanye, saat bukan kran bukan lagi keluar angin melainkan air bersih.

Cara lain yang mesti diprakasa adalah soal posisi Kota Kupang secara internasional berada pada jalur pasar antar negara Timor Leste dan Australia. Posisi itu, dari segi parawisata dan ekonomi, meski dibaca sebagai peluang yang menjanjikan. Sisi lain, Kota Kupang sebagai daerah sub urban bagi sejumlah masyarakat di kabupaten peyangga  didaratan Timor, Sabu dan Rote, sudah sepantasnya, wisata kuliner dan laju pariwisata mesti dibuat untuk menggaet sejumlah wisatawan agar berhenti di Kota Kupang dan membantu membikin hidup nafas pegiat wisata dan kuliner masyarakat. Yang lain, adalah soal ketersediaan lapangan pekerjaan agar para masyarakat yang menggantungkan hidup mereka di Kota Kupang menjadi nyaman.  Kota Kupang bukan lagi menjadi tempat persinggahan masyarakat peyangga untuk pergi merantau ke daerah lain atau negara tetangga tetapi menjadi tempat untuk menggantungkan hidup dengan mendapat nafkah dari lapagan pekerjaan yang sudah disiapkan secara baik oleh pemerintah. Terakhir, jargon Ayo berubah, bahkan hingga Ayo terus Berubah merupakan sebuah nafas baru dalam laju pertumbunhan ekonomi dan kemajuan Kota Kupang. Untuk tahun ketiga kepemimpinan Jefri Riwu Kore dan Herman Man, tuntaskan !

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini