Home / Nasional / Mangga Besar, SPPD dan Penyakit

Mangga Besar, SPPD dan Penyakit

1430 Kali dibaca
1221-768x432

Bagikan Halaman ini

Jakarta, penanusantara.com Kawasan Mangga Besar terkenal sebagai pusat hiburan malam di Jakarta. Pekerja seks komersial bergerak dari hotel ke hotel, door to door untuk menjajakan jasa mereka. Kawasan ini jadi favorit menginap para pejabat daerah, khususnya dari wilayah timur Indonesia.

Jakarta, penanusantara.com – Malam sudah beranjak jauh. Di pedalaman Lembata, NTT, warga kampung mungkin saja sudah terlelap dibuai mimpi malam yang sederhana dan bersahaja. Di sebuah sudut Jakarta, sekelompok pria dan satu-dua wanita sedang duduk santai di lobi sebuah hotel. Mereka berbincang dengan suara yang nyaris tak kedengaran, tertutup oleh hentakkan suara musik yang memekakkan telinga, dari balik dinding di sisi lobi hotel itu. Dari perawakan dan tampilan fisik, para pria dan dua orang wanita ini datang dari wilayah timur Indonesia.

Saat yang sama, sebuah mobil beranjak meninggalkan hotel di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Ada di dalamnya, seorang pria yang mengemudikan mobil itu, dan tiga orang perempuan. Dari penampilannya, mereka adalah isteri-isteri pejabat daerah dari wilayah timur Indonesia yang sedang berkegiatan di Jakarta.

“Kita cari-cari hotel di sekitar sini jo e No. Bapa pesan ketorang cari penginapan di sekitar sini jo..,” kata salah satu ibu ketika mobil sudah memasuki kawasan Gunung Sahari.

Pria yang mengemudikan mobil kemudian menjawab, kalau begitu ke Swiss-Bell Hotel saja. Mobil pun meluncur mencari putaran balik lalu mengarah ke Mangga Dua. Persis di pertigaan Mangga Besar, mobil berbelok ke kiri namun terlambat berbelok masuk ke kiri lagi. Jadilah mobil itu masuk

Mobil berjalan agak pelan karena malam itu adalah malam Sabtu dan kawasan ini sedang ramai-ramainya. Salah seorang ibu yang paling senior di dalam mobil itu pun bertanya, apa nama kawasan ini. Pria pengemudi itu pun menjawab, “Ini namanya kawasan Mangga Besar.”

“Oh ya, berarti ada rombongan anggota dewan dorang yang menginap disini ka.. Dorang ada Bimtek di Hotel Sahid, menginapnya di hotel daerah Mangga Besar,” ungkap salah seorang ibu lagi yang lebih junior.

Mobil terus bergerak perlahan maju, sambil mencari putaran balik untuk kembali ke hotel tadi. Di sisi kiri jalan mulai terlihat para penjual buah, warung nasi tenda, dan yang cukup menyolok adalah terlihat wanita-wanita cantik yang berdiri di beberapa pojok jalan dengan dandanan cantik, menggoda. Ada tas menggantung di bahunya, lalu ada tas kertas yang dijinjing, mirip goddie bag. Mobil pun terus melintas.

Rupanya ketiga ibu di dalam mobil itu memperhatikan dan akhirnya bertanya ketika sudah lebih dari 10 orang wanita cantik di pinggir jalan itu mereka amati. “No, nyenyora dorang ni bediri bua apa ni?,” tanya ibu yang paling senior.

Mendapat pertanyaan begitu, pria pengemudi mobil pun menjawab singkat, “Dorang kerja Mama…” Ibu itu bertanya lagi, “Dorang keriang apa? Ada kantor yang mesi buka jam begini ka?” Sang pria pun menjawab, “Dorang terada keriang di kantor Mama, dorang ni keriang dari hotel ke hotel.” Ibu itu makin penasaran, ” Maksudnya keriang apa maka bediri di tepi jalan situ? Jo dorang terada maso keriang di hotel dang?”

Akhirnya pria itu menjawab lagi dengan tuntas, “Mama, ini kawasan Mangga Besar. Torang sini Jakarta kalau mau pesiar kesini po malu. Tega disini ni pusatnya nyenyora sayo (istilah PSK bagi orang Flores Timur-red). Dorang bediri di tepi jalan tu bua cari mangsa, abi itu baru dorang sesama maso hotel. Me lebe banya yang so ada dalam hotel tu, makanya torang pung pejabat dari daerah tu lebe suka tingga di Mangga Besar sini ni,” ungkapnya seperti dilansir satulamaholot.com

Jawaban itu seketika membuat ketiga ibu yang suaminya juga adalah pejabat daerah di Pemda dan satu lagi di DPRD ini, diam seribu bahasa. Mereka tidak lagi konsen pada pemandangan di luar sana. Mereka diam hingga mobil masuk ke dalam pelataran parkir hotel yang dituju. Entah apa yang dipikir mereka, atau jangan-jangan sedang mengingat-ngingat sesuatu?

(Kisah di atas adalah fakta. Nama dan identitas dari keempat orang diatas ada pada redaksi, tidak dipublikasikan atas permintaan narasumber, pria pengemudi itu – red)

Mangga Besar juga dikenal dengan Lokasari, tepatnya THR Lokasari. Disini ada berbagai macam pusat hiburan malam, mulai dari bar, diskotik, panti pijat, prostitusi hingga peredaran obat terlarang. Pemprov DKI Jakarta beberapa waktu lalu sudah menutup beberapa tempat hiburan di kawasan ini.

Kawasan ini tak mengenal istilah jam malam. Aktifitas di kawasan ini, terutama pada malam akhir pekan, terus berlangsung hingga pagi. Bagi para pencari hiburan dan tempat melampiaskan birahi, bukanlah sulit untuk mendapatkan itu semua. Tinggal pilih, mau yang dari kelas mana dan seperti apa, semuanya ada disini. Itu pula sebabnya, Anda mungkin tak akan menyadari berapa banyak uang yang dibelanjakan selama satu malam jika masuk dan mengalami kehidupan malam di Mangga Besar.

Sekitar lima tahun belakangan ini, kawasan ini menjadi favorit bagi para pejabat dari daerah, terutama wilayah timur Indonesia. Pejabat-pejabat dari kabupaten/kota di NTT termasuk diantaranya. Entah apa alasannya para pengguna SPPD ini memilih Mangga Besar? (sl/pn).

Ket foto : Transaksi antara PSK dan pengguna jasa di depan kamar hotel di Kawasan Mangga Besar (Diambil dengan kamera tersembunyi – Foto: ML).

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini