Home / Dunia / Pesan Bunda Maria Dibalik Polemik Keuskupan Ruteng

Pesan Bunda Maria Dibalik Polemik Keuskupan Ruteng

3304 Kali dibaca
20170806_171052

Bagikan Halaman ini

(Kesaksian Hendrik Leynard Chandra 10 Tahun Silam)

Ruteng, penanusantara.com – Hendrik Leynard Chandra yang lazim dipanggil Baba Ley, berdomisili di kelurahan Pitak Kecamatan Langkerembong Kabupaten Manggarai. Pria kelahiran Labuan Bajo 25 juni 1963 itu berprofesi sebagai pengusaha di Ruteng ibukota Kabupaten Manggarai.

Selain bekerja untuk pemenuhan kebutuhan duniawi, beliau  juga selalu mendekatkan diri dengan Bunda Maria melalui Novena.

Kegiatan Novena ini menjadi kegiatan rutinitas dalam keseharianya untuk meningkatkan mental dan spritualitas (Mensprit) sebagai umat Khatolik. Kisah Hendrik Leynard Chandra kepada penanusantara.com

Ia berkisah, Polemik Keuskupan Ruteng merupakan suatu penggenapan pesan Bunda Maria 10 tahun silam. Bunda Maria mewartakan pesan kepada dirinya selama tujuh kali berturut turut dalam setiap Novena.

“Pada awalnya pesan Bunda Maria itu, saya menolak karena tidak sanggup untuk menyampaikan pesannya kepada Uskup Ruteng, Selain itu latar belakang pendidikan yang membuat saya tidak sanggup. Dikala itu Keuskupan Ruteng dipimpin oleh yang Mulia Mgr. Eduardus Samsung,SVD,” cerita Leynard

Leynard bersaksi, Pada 7 Desember 2007 Pukul 14.00 wita merupakan hari ke tujuh dalam kesaksian di ruangan doa keluarganya, Bunda Maria memperlihatkan kepadanya suatu kehancuran yang dashyat yang akan terjadi di dunia. Melihat hal ini membuat dia merasa ketakutan dan menangis.

Disaat Itu Bunda Maria menyampaikan pesan “Aku tidak akan menghentikan air matamu sampai engkau katakan sanggup”. Dialog itu berakhir pada pukul 15.00 wita dan Pesan terakhir disampaikan Bunda Maria “Sampaikan pada Uskupmu akan terjadi perpecahan besar di tubuh Biarawan Biarawati, sampaikan salamku pada Uskupmu dan pada saat itu terjadi, engkau harus mendamaikan mereka,” ungkap Leynard mengikuti pesan Bunda Maria.

Sejak saat itu, deraian air mata pun tak kunjung berhenti. pada hari pertama  setelah mendapatkan pesan Bunda Maria, Dia memohon kepada seorang Suster bernama Albertin yang berkarya di panti bersalin Karot Ruteng.

Pada hari keempat dia pasrah dan nyatakan dalam doa untuk sanggup menyampaikan pesan itu kepada Uskup Ruteng. saat itu juga tetesan air mata pun berhenti.

Setelah menjalankan doa novena Leynard menuju ke Keuskupan Ruteng dan diterima oleh seorang wanita di kantor sekertariat Keuskupan.

“Sebelumnya saya menceritakan isi pesan Bunda Maria kepada ibu tersebut. wanita itu pergi dan bertemu Uskup Mgr. Eduardus Samsung. setelah beberapa saat kemudian wanita itu mengusir saya dengan berkata. “Keluar kau, Uskup tidak mau bertemu kau” sambil tangannya mengisyaratkan saya untuk keluar,” tutur Leynard

Kesaksian pesan bunda Maria itu pun Disampaikan kepada Romo Edy Manory (Kepala Sekolah SMAK ST. Fransiskus) dan dua Frater di Penginapan Khatedral lama.

Selain itu kata Dia, pesan Bunda Maria ini juga disampaikan kepada Romo Herman Ando, Lorens Coan dan Romo Ompy Latu.

“Saat itu, Romo Ompy berkata bahwa saya mendapat karunia dan ia akan menyampaikanya kepada Bapak Uskup. setelah itu saya menulis Pesan Bunda Maria tersebut dan menitipkan kepada seorang ibu untuk diberikan kepada Bapak Uskup lewat Romo Aman Mbiri,” jelasnya

Ia Menambahkan Pesan Bunda Maria 10 tahun yang lalu jika dihubungkan dengan keadaan di keuskupan Ruteng merupakan suatu peristiwa penggenapan. Saat ini adalah masa pemurnian di Keuskupan Ruteng. kejadian tersebut sebagai bagian dari Rencana Sang Pencipta sendiri.

“Tuhan Allah maha pengasih, penyayang serta maha pengampun atas segala salah dan dosa, Saya berkeyakinan bahwa setelah masa pemurnian akan terjadi peristiwa peristiwa Mulia di dunia khususnya di keuskupan Ruteng. Marilah kita serahkan semua harapan kita lewat perantaraan Bunda Maria, sebab Ia adalah Bunda kerahiman Allah di surga,” pintanya

Kons Hona, Pito Atu

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini