Home / Pariwisata / SEMALAM di ADONARA

SEMALAM di ADONARA

286 Kali dibaca
IMG-20181216-WA0030

Bagikan Halaman ini

Kota Kupang, penanusantara.com – Merayakan Malam Minggu di taman budaya bersama Angkatan Muda Adonara memang tidak seperti biasanya. Semalam di Adonara menjadi Tema besar dalam perayaan Dies Natalis ke 18 AMA Kupang. Sebuah organisasi kemahasiswaan diaspora Adonara yang menempuh pendidikan di Kupang.

Sambutan Ketua Umum AMA Kupang, Dies natalis ini menjadi momentum membuka catatan sejarah masa periode selama delapan belas tahun. Momentum yg sangat besar mengguncangkan pulau ini (Kupang). Karena dari pulau Adonara lahir sebagai pemimpin tangguh.

Ia menegaskan bahwa AMA Kupang yang berdiri pada tahun 2000 silam, momentum dies natalis ini adalah merefleksikan kondisi dan situasi saat ini. Tidak mempunyai sebuah rumah (Ori) untuk mengumpulkan anak-anak Adonara yg ada di Kota Kupang.

Kita berpikir bersama bahwa kaderisasi adalah tugas kita bersama. AMA Kupang tidak lagi lontang lanting diterik dan panasnya matahari dan hujan. AMA Kupang harus mampu mendirikan sebauh rumah, sebuah “Ori” sebagai tempat menghimpun anak-anak Adonara,tandas Hery Boly.

Dalam acara itu, turut hadir pembina AMA Kupang periode 2018/2019, Bapak Frans Lebu Raya, Ibu Penggerak PKK Provinsi NTT, Ibu Penggerak PKK Kabupaten Flores Timur, Politisi Ahmad Yohan dan tamu undangan lainnya.

Sambutan Pembina AMA Kupang, Bapak Frans Lebu Raya menyatakan bahwa usia 18 Tahun AMA Kupang, sebagai sebuah organisasi memang masih muda dibandingkan dengan organisasi besar lainnya, seperti GMNI, PMKRI, GMKI dan HMI.

Kedatangan FLR di dies natalis ini merupakan bukti bahwa beliau ada untuk Ama Kupang. FLR menegaskan bahwa sekretariat bukan harus merupakan sebuah gedung namun lebih jauh adalah isi untuk membina anak-anak Adonara dalam wadah organisasi Ama Kupang. Walaupun sesungguhnya beliau mendukung pembangunan sekretariat.

FLR menghimbau kepada ketua umum agar mampu menghadirkan para orang-orang tua dalam acara yang diselenggarakan AMA Kupang sebagai wujud dukungan moril kepada anak-anak Adonara. FLR juga memotivasi agar mampu menghadirkan pentas budaya yang tidak hanya dari Adonara namun dari daerah lain pula.

Di hari peringatan dies natalis ini, berbagai seni budaya dipentaskan di panggung taman budaya. Fashion show sebagai pembuka acara menarik desak kagum tamu undangan. Penampilan Para “Kewae Sode Boleng” dengan paras cantik nan manis dibaluti kain tenun adat Adonara disambut tepuk tangan penonton, terlebih kaum “Kelake Ado Pehan”.

Tarian Hedung mengiringi perjalanan mengisi larutnya malam. Tarian Hedung dikenal sebagai tarian untuk menujukan keperkasaan di medan perang. Para lelaki dengan sukses menampilkan kepiawaian menggunakan tombak (gala) , parang (knube/peda) dan tameng (dopi) di atas panggung.

Merinding ketika penampilan seorang perempuan (saya tidak tahu namanya) dalam jargon “adu darah”. Adu darah yang terjadi antara Lewonara melawan Lewobunga dalam perebutan tanah. Perang tanding dijadikan sebagai jalan membuktikan kebenaran atas kepemilikan yang sah.

Pembunuhan dijadikan sesuatu yang sah dan unik. Unik karena membunuh, menghilangkan nyawa manusia. Rumah-rumah penduduk dibakar. Tidak ada ikan yang bisa dimakan. Anak-anak sekolah terlantar lantas ujian tidak bisa ditunda.

Begitu banyak seni budaya yang dikolaborasikan. Lantunan puisi-puisi karya sastra Bara Pati Raja. Sajak sastra kuno dari perempuan Lamahala menambah kesan historis. Motivasi orang tua kepada anaknya yang ingin menempuh pendidikan di tanah rantau, mencari 100 lembar buku dan 70 batang pena untuk berbakti kepada kampung halamanya ketika menamatkan studinya.

Nasihat atas kenakalan dan kehidupan para mahasiswa menjadi kritikal tersendiri di luar dunia kehidupan kampus. Hidup berfoya-foya tanpa peduli dengan pendidikan dan orang tua membawa kesan tersendiri. Dominasi kuasa suami yang lebih mementingkan adat mendapat penolakan dari sang istri yang mengedepankan keberhasilan anak-anaknya melalui dunia pendidikan menemani malam yang semakin larut.

Dolo-Dolo menutup acara dies natalis ke 18 tahun. Saling bergandengan tangan dalam gerak kaki yang sama mmengikuti irama bermakna sehati sejalan melangkah membangun AMA Kupang. (*/Pito)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini