Bau Badai Seroja, Eforia Kelahiran Pancasila dan Nasib Rakyat Petani Oesena

  • Whatsapp
Penulis bersama rekannya saat berada di di desa Tunbaun Kecmatan Amarasi Kabupaten Kupang.
banner 468x60

Oelamasi, penanusantara.com – Pagi tadi saya bersama tim Al-maun Institute mengambil jalur tempuh ke Kabupaten Kupang, kota yang bersebelahan dengan kota kupang sebagai ibu kota provinsi NTT.

Perjalanan yang kami sebut sebagai syafari humanis ini bertujuan menyambangi salah satu masyarakat Kabupupaten kupang, ia berita naas yang saya dapati kemarin pagi lewat teman saya yang juga bertengker disalah satu media online membuat saya harus mengajak kawan kawan relawan kemanusiaan untuk soan kekediaman pasien tumor ganas di desa Tunbaun Kecmatan Amarasi Kabupaten Kupang.

Read More

banner 300250

Kurang lebih 2 jam 7 menit waktu tempuh perjalanan kami untuk samapi ke Ke Desa Tunbaun kecamatan Amarasi Barat, karena belum cukup mengidentifikasi posisi geografi Kabupaten Kupang, kami akhirnya disadari dengan kenyataan bahwa kami melewati jalur yang salah setelah sempat tanya-tanya warga pada bahu jalan sepanjang desa Oesena Kecamatan Amarasi Timur.

Secara matematik jarak tempuh ke desa yang kami tuju dalam agenda menyambangi ibu Nia Daniati Nitti harusnya melewati barat Kota kupang, agar lebih dekat jarak tempuhnya. namun kendati sudah keliru dalam mengambil jalur, kami harus putar balik ke Kota Kupang untuk melanjutkan prjalanan kami ke Desa tepat tinggal pasien dengan fonis tumor itu.

Tujuan kami memang hendak meberikan suport dan menghibur keluarga Ibu Nia sekaligus hendak menulis soal penyakit yang dideritanya agar makin banyak para pemerhati kemanusiaan turut mengetahi kondisi terkini keluarga ibu yang kini berusia 35 tahun itu.

Dalam perjalanan arah balik kami dan rombongan yang terbilang cukup naas itu, kami dikagetkan dengan tampilan pemukiman baru yang jaraknya 6 Km dari desa induk Oetune Kecamatan Amarasi Timur.
bukan tanpa alasan, tampilan gubuk reot yang hanya dipasang bak rumah rumah kebun itu membuat saya dan tim harus berhenti sejenak, saya sempat berbisik ke salah satu rekan saya agar perjalanan ini harus diisi dengan advokasi advokasi kecil pada masyarakat kelas bawah.

Dengan terik matahari diatas kepala siang tadi, kami dan tim akhirnya singgah pada salah satu gubuk reot yang ditempati Bapak Thafilus Thon, peria tua renta yang beruban hampir seisi kepala. banyak percakapan dan diskusi kami seputar tampilan dari wajah pemukiman baru itu.

Tentu saya cukup heran kendati saya hampir tidak sering berkunjung ke kabupaten kupang sejak awal 2021 tahun lalu, ia Warga dengan nama tempat keutuntuka itu adalah warga dengan akumulasi dua Dusun yakni dusun II dan III pada desa induk Oesena, warga yang ditimpa bencana alam besar badai seroja musibah yang meluluh lantakan seanteor NTT sejak tanggal 3 April 2021 lalu.

Berdasarkan investigasi saya dan tim
warga ketuntuka pemukiman yang baru diserha terima secara simbolik sejak desember 2021 itu adalah warga asal desa Oetune yang harus dipindah tempatkan sebab rumah, pekarangan dan komplek dusun dusun mereka ludas terbelah tanah dan digilas angin sejak badai seroja tahun lalu. menurut keterangan warga yang lain disekitaran gubuk bapak Thafilus bahwa tanah ini adalah tanah pemerintah provinsi NTT yang dihibahkan untuk warga yang terdampak bencana, ia pemerintah provinsi yang melibatkan dinas kehutanan, dinas perumahan rakyat dll.

Namun ada yang menjanggal bagi saya, sebab sesuai keterangan kedudukan para warga pada pemukiman baru itu perlu disebut sebagai pemukiman non legal stending, sebab tidak ada keterikatan berupa administratif yang mengkiat warga dan para tokoh pemerintah Provinsi. tanah dengan luas 250 kali 600 meter itu dijanjikan kan dengan pengukuran dan sertifikasi untuk dibagikan per kepala keluarga dengan luas 15 kali 20 meter itu sudah dijanjikan sejak bulan November 2021.

Namun kata warga samapi saat ini belum nampak batang hidung pemerintah dalam mengemplementasikan janji janji yang cuga turut melibatkan salah satu Aanggota DPR RI itu belum ada titik jelas hingga saat ini. sebab yang dijanjikan pemerintah provinsi pada masyrakat pengungsian itu adalah sebidang tanah dengan lebar 15 kali 20 per kepala keluarga beserta bahan material belum kunjung datang.

Hampir 7 bulan sudah penduduk dengan jumlah kepala keluarga mencapi 239 itu tergeletak begitu saja diatas punggung bukit Kecamatan Amarasi Timur, tentu tidak mungkin tanpa pengeluhan sebab
mulai dari aktifitas sosial kemasyarkatan, aktifitas mata pencaharian warga, sampai aktifitas pendidikan anak anak di pemukiman baru itu harus dilalu dalam keadaan serba kesulitan. bagai mana tidak, jarak yang cukup jauh dari desa induk dengan realita yang menampar merka bahwa seluruh pusat kepemerimtahan hingga sekolah sangat terbilang jauh jarak tempuhnya dari pemukiman baru mereka. para warga harus dipaksa menjalankan aktifitas mereka dalam janji janji pemerintah desa dan pemerintah provinsi.

Dalam beberap keterangan yang kami himpun, sebenarnya sudah ada bantuan yang mereka kantongi dari pemerintah Kabupaten Kupang, yang diporsikan untuk pembangunan dapur dengan luas 3 kali 4, Seng semen dan paku sudah ada tapi bagai mana cara kami membangun kalau belum ada pengukuran tanah dan pembagian sertifikat oleh pemerintah’ ujar salah satu kawan bapak Thafilus pada kami tim.

Bukan tanpa alasan para warga cukup ragu dan cemas untuk membangun dan menatah rumah, sebab sudah pula janji janji penataan rumah rumah wagra di pemukiman baru mreka.

Bagi mana kalau kami sudah membangun dengan bantuan yang dikasi oleh pemerintah kabupaten, lalau datang para buldoser dan eksafator.. tandas bapak bapak lain yang turut berkerumun saat kami melangsungian infestigasi dipelantaran gubuk bapak Thafilus.

UU No 24 Tahun 2017 tentang penanggulangan bencana, PP No 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan penanggulangan bencana bertujuan untuk menjamin terselenggaranya pelaksanaan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman, risiko, dan dampak bencana. harusnya jadi payung peraturan untuk melindungi masyarakat NTT dari dampak guyuran badai seroja kemarin.
agar terselengaranya kesejahtraan bagi warga desa Oesena seluruh elemen kepemerintahan harus lebih serius tanpa tedeng aling aling dalam pendampingan, perbaikan, dan perlindungan agar tercapai cita cita luhur banggsa ini yang tegas dimuat dalam Pancasila butir ke dua “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Kendati terlalu capek saya dan tim memutuskan untuk balik sejenak dengan plen bertandang ke rumah Pasien Tumor yang telah menderita tumor sejak dibangku SMP itu dilakukan dihari esok.

Penulis : h.n.a

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *