Dibangun pada tahun 2016, Embung Di Desa Leowalu Mubasir dan Tak Pernah Digunakan

  • Whatsapp
Kondisi Embung di Desa Leowalu yang sudah rusak dan mubasir sejak dibangun pada tahun 2016 lalu. Foto pada Minggu (10/11/2019). Foto by Marselino Kardoso.
banner 468x60
Atambua, penanusantara.com – Sebuah embung di Desa Leowalu, tepatnya di Seleklolo, Dusun Leowalu Tas, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu Perbatasan RI-RDTL mubasir.

Embung ini dibangun pada tahun 2016 lalu dan tidak pernah digunakan lantaran langsung rusak saat musim hujan tiba.

Saat ini, kondisi embung tidak lagi terlihat seperti embung pada umumnya. Embung tersebut sepintas nyaris rata dan kering karena ketiadaan air. Diduga tidak sesuai spek atau spesifikasi sehingga embung tersebut langsung retak dan saluran pembuangannya ambruk di saat musim hujan tiba.

Read More

banner 300250

Tak diketahui persis berapa anggarannya dan siapa pelaksana pekerjaanya namun diduga embung yang bernilai hampir mencapai Rp 200 juta ini dikerjakan asal jadi dan tak sesuai spesifikasi teknis (spek).

Pantauan TIMORDAILY.COM, Minggu (10/11/2019), dasar embung ini kering dan tanahnya retak – retak. Di satu sisi, saluran pembuangan embung ini sudah ambruk. Tak ada sedikitpun air di embung ini, selain karena musim kemarau saat ini namun terlihat tidak pernah ada genangan air di dasar embung ini.

Kondisi Embung di Desa Leowalu yang sudah rusak dan mubasir sejak dibangun pada tahun 2016 lalu. Foto pada Minggu (10/11/2019). Foto by Marselino Kardoso/TIMORDAILY.COM
Kondisi Embung di Desa Leowalu yang sudah rusak dan mubasir sejak dibangun pada tahun 2016 lalu. Foto by Marselino Kardoso.

Tokoh masyarakat Desa Leowalu, Dominikus Mali, membenarkan jika embung tersebut tak pernah digunakan usai dikerjakan.

“Sejak dibangun tidak sempat dipakai karena hujan datang langsung jebol karena saluran pembuangannya tidak sesuai. Sekarang sudah rusak total,” ungkap Mali di lansir TIMORDAILY.COM.

Menurutnya, pemilik tanah maupun warga sekitar mengaku kecewa karena embung yang harusnya dibangun untuk membantu menyediakan ketersediaan air untuk pertanian ternyata tak pernah digunakan.

“Sekarang mau bagaimana lagi? Kita kecewa karena awalnya sudah disampaikan bahwa embungnya akan membantu kami, ternyata setelah dibangun tidak sempat pakai tapi langsung rusak saat hujan datang,” ungkapnya.

Menurut Mali, dirinya tidak mengerti soal konstruksi pembangunan sebuah embung namun dari pengamatan mereka, saluran pembuangan embung tersebut tidak tepat sehingga menyebabkan embung mudah jebol saat hujan dan juga diduga kualitasnya buruk.

“Embungnya sudah tiga tahun lalu tapi kalau mau ditelusuri bisa. Masa baru habis kerja, hujan datang langsung rusak. Kami kenal orang yang selalu datang antar bahan dan material untuk kerja proyek embung ini, tapi nama CVnya kami tidak tahu karena waktu itu tidak ada papan informasi proyeknya,” pungkas Mali. (TD/pito)

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *