Harmoni Indonesia

  • Whatsapp
Ilustrasi

Oleh : Poyensianus Marton

Mahasiswa Fkip, Undana

Read More

 

Konon kabarnya

Berhias keringat matahari siang

Debu kenalpot dan seratus lima puluh pasang mata

Pejuang kita berkaya

Kutu diketiaknya dan seribu selogan diliurnya

Apa didapat pejuang pagi ini?

Rapat seujung pagi, bergelas kopi berbungkus rokok bermangkok mie

Malam tumpah dengan serapah

Semangat tengik berlendir upah

Dalam dompet lusuhnya

Pejuang menyimpan penjara bagi perempuan lusuh dan lenta

Perempuan yang kini janda tak punya daya disepetak rumah tua

Dibenam sepi ditembok luka

Aku akan bikin ibu bahagia

Pejuang memandang jempol yang rapuh

Perempuan disajadah khusuk

Mengirim lima ribuh macam doa

Anak yang sibuk memanggil mimbar

Berharta kata-kata

Ideologi yang jadi ganja dan janji yang berkoreng dikepala

Kita tidak boleh lagi sengsara

Untuk ibu anakpun propaganda

Diseperempat pagi, pejuang sudah asyik berorasi

Masa berkumpul menagih komisi

Tapi aku punya ide, bukan nasi

Pejuang menjerit wajahnya pasi

Tapi mana orang mau mengerti

Demonstrasi bakal batal pagi ini

Tak ada bekal bahkan sekedar kopi

Pejuang termangu tak mengerti

Ide, semangat tak laku lagi

Rezim penindas hukum yang keji

Masa tak lagi peduli kecuali jatah rejeki, transport atau tambahan anak istri

Di lepas siang pejuang merapikan diri, berbekal map dan hati yang kecut

Bertemu tuan digedung mewah yang padat gengsi

Selamat siang tuan pejuang

Sapa tuan dengan tawa sopan

Aku mengerti

Jawab tuan tanpa pertanyaan

Terkesiap pejuang tak siap peluang

Tak berpanjang tuan menyodor uang

Pergilah berjuang…….. jadihlah pahlawan

Tetapi aku melawan tuan

Apa masalahnya?

Tuan ada untuk dilawan

Loh… kenapa tuan

Sore tak lagi terik, bergantung padat dan mata sipit, pejuang-pejuang pulang tiada sambat

Beratus patriot setia menunggu

Masa mendesak sudah beribu, juga keluh dan kuatir ibu

Belum lagi pagi pejuang datang padat harapan

Patriot bersorak, masa bersalaman

Semua bertepuk mengeluh-eluh

Pejuang tersipu hatinya keluh

Ingat ibu dan rebusan ubi kayu

Malam rapuh mulai jatuh

Petak rumah, tembok lupa

Pejuang tiba coba gembira

Sepuluh bingkisan untuk ibunda dan tawa pertama sekujur hidupnya

Tapi tak ada suara, pintu tak buka diketuk lima

Sepuluh bingkisan jatuh tertimpah

Digelap kamar itu, tubuh rapu diri membeku

Jarum benang ditangan, ubi beku dipangkuan

Darah tertahan ditenggorokan

Langit tidak  menjerit, malam tidak melolong

Darah pejuang rasa menjerit pikiran dan jiwanya

Kosong…. Besok jadi sejarah

Anak jelata jadi pahlawan

Anak jelata kini bangsawan

Dan 1000 hati, 1000 kaki membekas

Tapak ditengah yang masih merah dan basah

Canda sepi tanpa kenangan

Anak satu lenyap dikemenangan

Hidup…hidup…hiduplah….

Anak bangsa

Komentar Anda?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *