IPW Minta Polisi Transparan Hasil Penyidikan dan Hambatan Kematian Elkana Konis

  • Whatsapp
Ilustrasi
banner 468x60

Kota Kupang, penanusantara.com – Kematian Almarhum Elkana Konis sudah sembilan tahun berlalu sejak 2013 silam.

Penyidikan kasusnya hingga saat ini, belum bisa dilanjutkan kembali setelah pihak keluarga menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) pada tahun 2014.

Nama Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan (Kabid Propam) Polda Nusa Tenggara Timur (NTT), Kombes Pol Dominicus Yampormase viral di media sosial.

Pasalnya, Dominicus Yampormase dituding sebagai otak pembunuhan atau penembakan warga sipil asal Kabupaten Kupang, Elkana Konis pada 2013 silam itu.

Dikutip detik.com, Senin (19/12/2022) lalu, keluarga Elkana Konis menjelaskan, Elkana tewas ditembak saat berburu di hutan Sabaat, Desa Oelpuah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, NTT.

Menanggapi hal itu, Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso, Rabu (21/12/2022) menyampaikan duka cita terkait matinya korban Elkana Konis pada 2013 tersebut yang sebab matinya diduga terkena tembakan.

Mrnurut Sugeng, Terkait telah dihentikannya proses penyidikan perkara tersebut Polisi harus transparan menjelaskan alasan sp3 perkara tersebut.

“Proses penyelidikan/penyidikan memang harus bermuara pada kepastian hukum dinyatakan P21 dan selanjutnya diajukan ke pengadilan atau dihentikan. Semuanya harus dijelaskan,” katanya.

Dikemukakan Sugeng, IPW telah mencari informasi terkait dengan peristiwa 2013 yang menimbulkan korban Elkana Konis.

“Dari Data dan Informasi yang dapat kami peroleh memang matinya korban terkait adanya luka tembakan akan tetapi memang disayangkan tidak ditemukan proyektil peluru yang dapat dijadikan barang bukti, hal mana sulit untuk menentukan jenis senjata,” jelasnya

Ia menambahkan, Maka tuduhan agar Kabid Propam Polda NTT yang saat itu menjabat sebagai Kapolres Kupang diminta bertanggung jawab tentu kurang ada dasarnya serta itu adalah logika melompat.

“Apalagi tuduhan merintangi penyidikan adalah tidak berdasar. Semua proses hukum tentu harus profesional dan proporsional agar dapat dipertanggung jawaban,” tambah Sugeng.

Menurutnya, Penetapan tersangka dalam kasus ini harus mengungkap lebih dulu barang bukti proyektil peluru. Ini yabg harus didalami dan dijadikan barang bukti. Tuduhan pembunuhan berencana sangat prematur sebelum diketahui proyektil peluru dan jenis senjata yang digunakan.

Ia juga meminta Kepolisian harus menjelaska secara transparan hasil penyidikan dan hambatannya.

Dilansir detik.com, Anak kandung korban, Ferdinan Konis (36) mengisahkan, sebelum ditemukan tewas di hutan tersebut, ayahnya, Elkana Konis mendapat telepon dari pelaku, YL yang mengajaknya pergi berburu rusa di hutan. Tak lama kemudian, keluarga mendengar bunyi tembakan.

“Itu terjadi pada tanggal 25 Desember 2013. Awalnya pelaku itu telepon ke bapak untuk berburu rusa ke tempat yang pernah mereka berburu. Sekitar 1-2 jam kemudian, kami mendengar ada bunyi tembakan,” tutur Ferdinan, Minggu (18/12/2022) malam.

Setelah mendengar suara tembakan itu, YL tiba-tiba pulang dari hutan menuju mobil yang diparkir di depan rumah korban.

“Kebetulan saat itu dia parkir mobilnya di depan rumah kami, sehingga saya pergi jemput dan saya tanyakan ke dia: ‘tidak tembak lagi?’ Tetapi om YL tidak menjawab, lalu dia ambil senjata yang dibawanya langsung kabur dengan mobilnya,” kisah Ferdinan.

Saat itu, Ferdinan sama sekali tidak menaruh curiga dengan YL pun tidak mempunyai firasat buruk tentang peristiwa yang menimpa ayahnya.

Kekhawatiran Ferdinan mulai muncul setelah sekitar pukul 16.00 Wita, sang ayah belum juga pulang. Padahal, Ia sudah berburu sejak pagi hari. Ferdinan pun  menelepon YL dan menanyakan keberadaan sang ayah.

“Dia alasan saja bilang hari ini dia tidak pergi berburu. Padahal dia yang telepon Bapak untuk pergi berburu. Selanjutnya kami melakukan pencarian di TKP selama tiga hari dan saat ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia, tepatnya tanggal 27 Desember 2013 siang. Kami lihat bapak mengalami luka tembakan pada bagian belakang dan tembus bagian dada sehingga tulang rusuk patah,” kisah Ferdinan. (pn)

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *