Jas Hujan

  • Whatsapp
Ramli Lahaping
banner 468x60

Baru saja aku selesai mengantarkan berkas lamaran kerjaku di sebuah perusahaan. Dengan penuh harapan untuk diterima sebagai karyawan, aku lantas beranjak keluar dari gedung tersebut. Aku hendak pulang ke kamar kos-kosanku untuk kembali fokus mencari informasi lowongan kerja di internet, kemudian kembali menyusun berkas lamaran.

Sebagai seorang sarjana pengangguran, aku tak ingin singgah di mana-mana untuk membeli apa-apa. Aku merasa sepatutnya berhemat demi keperluan-keperluan yang kurasa lebih penting. Apalagi, aku ada janji untuk bertemu dan berjalan-jalan dengan wanita pujaanku pada sore hari, dan aku butuh ongkos untuk memanjakannya.

Tetapi tiba-tiba, di halaman parkir, seseorang perempuan paruh baya menghampiriku dan menawarkan jas hujan jualannya.

“Jas hujan, Pak. Harganya murah. Cuma delapan puluh ribu rupiah saja,” katanya, dengan nada suara dan raut wajah yang lesu.

“Tidak, Bu,” balasku, dengan senyuman simpul yang sekilas.

Diam-diam, aku merasa risi menyaksikan sikapnya yang memelas. Aku kira ia sedang berupaya menipuku dengan berjualan sambil mengemis-ngemis. Aku yakin bahwa ia hendak memperdayaku dengan penampilannya yang memprihatinkan, agar aku tersentuh dan mau membeli jajanannya yang telah ia mahal-mahalkan itu.

Sialnya, ia terus saja membuntutiku. “Tolong belilah, Pak. Jas hujan ini, bagus, kok. Tahan lama,” rayunya, sambil menyodorkan sebuah barang jualannya kepadaku. “Di musim hujan begini, Bapak pasti butuh. Apalagi, sekarang langit tampak mendung.”

Aku kembali melayangkan senyuman simpul. “Tidak, Bu. Terima kasih.”

“Belilah, Pak. Hitung-hitung, Bapak membantuku memenuhi kebutuhan anak-anakku,” bujuknya lagi, masih dengan tampakan wajah yang sayu.

Aku lekas menggeleng keras. “Tidak, Bu.”

Akhirnya, dengan sikap cuek, aku melenggang pergi dengan sepeda motorku.

Seketika, aku merasa selamat dari teror batin, sebab aku selalu merasa dilematis setiap kali menghadapi para penjaja yang memelas. Itu karena pada satu sisi, aku merasa kasihan juga melihat penampakan mereka yang memprihatinkan, tetapi di sisi lain, aku menaksir kalau mereka hanya bersandiwara.

Tetapi di tengah perjalanan pulang, aku malah makin risi menyaksikan kenyataan bahwa memang masih banyak orang yang mencari rezeki sembari mengesampingkan harga dirinya. Di setiap persimpangan jalan, ketika lampu lalu lintas menyala merah, para penjaja, pengemis, dan gelandangan, akan menghampiri pengendara untuk memohon uang, termasuk kepadaku.

Namun perlahan-lahan, aku kembali tersadar bahwa aku tak sepantasnya menyalahkan mereka secara penuh. Kehidupan memang sedang sulit, dan barangkali mereka tak punya pilihan pekerjaan yang lebih baik dan bermartabat. Apalagi, aku merasakan sendiri, bahwa di tahun kedua aku menyandang gelar sarjana dan bertahan di kota, aku tak juga mendapatkan pekerjaan yang kuinginkan.

Akhirnya, atas kesadaran itu, aku pun mulai khawatir kalau-kalau kepahitan ekonomi telah dan akan terus menggerus rasa simpatiku. Aku takut kalau kehidupan yang keras membuatku kehilangan rasa kasihan kepada orang lain. Karena itu, aku berharap bisa segera mendapatkan pekerjaan, agar aku menjadi ringan tangan untuk membantu orang-orang yang tersisih dalam persaingan kerja, alih-alih mencurigai dan mengutuki mereka.

Namun tiba-tiba, di tengah renunganku, hujan pun turun. Aku lantas mempercepat laju sepeda motorku, dan berharap bisa sampai di kos-kosanku sebelum basah kuyup. Tetapi hujan kemudian menderas, hingga aku memutuskan untuk menepi dan berteduh di bawah kanopi sebuah ruko, demi keamanan berkas-berkas penting yang ada di dalam tasku.

Detik demi detik, aku pun termenung saja menatap bulir-bulir air yang berjatuhan. Aku hanya berharap semoga hujan segera reda, agar aku segera sampai. Apalagi, aku mulai merasa kedinginan sebab pakaianku sudah setengah basah. Tetapi sepertinya, aku mesti bersabar lebih lama, sebab hujan tampaknya masih akan terus berlangsung di bawah langit yang muram.

Seketika pula, aku terpikir pada keputusanku telah menolak tawaran jas hujan dari seorang perempuan paruh baya. Seandainya tidak, aku pasti telah berada di dalam kamar kos-kosanku dengan kondisi tubuh yang hangat. Tetapi nasi sudah jadi bubur, dan penyesalan tidak akan mampu mengulang waktuku untuk mengubah keputusanku.

Namun untunglah. Setelah aku menilik-nilik, aku pun melihat pajangan jas hujan pada sisi ujung deretan bangunan ruko tempatku berteduh. Tanpa pikir panjang, aku bergegas untuk membeli satu di antaranya. Dan akhirnya, aku terkejut setelah mengetahui daftar harganya. Paling murah, seratus sepuluh ribu rupiah. Itu jelas jauh lebih mahal dari jas hujan tawaran sang ibu yang telah kuabaikan beberapa saat yang lalu.

Tetapi atas janji yang telanjur kuucapkan kepada wanita pujaanku, akhirnya, aku memutuskan untuk membeli jas hujan berharga mahal tersebut. Bagaimanapun, aku ingin menjemputnya sesuai waktu yang telah kujanjikan. Sebab itu pula, aku ingin segera sampai di kos-kosanku, agar aku bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum bertemu dengannya.

Sesaat kemudian, berbekal jas hujan baru tersebut, aku kembali melanjutkan perjalanan pulangku. Tak lama berselang, aku pun tiba di halaman kos-kosanku dengan tubuh yang menggigil. Aku lalu bergegas masuk ke dalam kamarku, lantas mengeringkan tubuh dengan handuk. Tetapi perlahan-lahan, aku mulai merasa kepalaku pening dan suhu tubuhku tidak stabil.

Namun atas nama cinta, aku bertekad memenuhi janjiku untuk menjemput wanita pujaanku dengan tepat waktu. Aku pun lekas mengenakan pakaian dan membenahi penampilanku. Tetapi akhirnya, aku harus berpikir ulang, sebab tiba-tiba, aku tak lagi menemukan dompetku dari dalam kantong jaket atau celanaku, sehingga aku kehilangan bekal ongkos untuk menyenangkannya.

Beberapa lama kemudian, ponselku berdering. Wanita pujaanku sedang memanggil. Dengan pikiran yang kacau, di tengah kondisi tubuhku yang tidak nyaman, aku pun menjawab panggilannya untuk sekaligus menyampaikan keputusanku.

“Kau jadi datang, kan?” tanyanya, dengan suara manja.

Aku pun mengembuskan napas yang panjang, lantas berucap jujur dengan setengah tega, “Maaf, aku tidak bisa.”

“Kenapa?” sergahnya.

“Aku tidak enak badan. Tadi, aku kehujanan di tengah jalan, dan aku mulai merasa demam dan sakit kepala,” terangku, apa adanya, dengan kecemasan kalau-kalau ia akan kesal.

Dan akhirnya, ia mendengkus pasrah. “Baiklah. Tidak apa-apa kalau begitu. Semoga keadaanmu lekas membaik.”

Aku sontak merasa tenang atas tanggapannya.

Sejenak kemudian, sambungan telepon pun terputus.

Seketika pula, aku kembali merasa bahwa aku telah mengambil keputusan yang keliru hari ini. Aku telah menolak tawaran jas hujan dari seorang perempuan paruh baya, hingga aku jatuh ke dalam perkara yang pelik. Aku jadi sakit, dan dompetku hilang entah ke mana. Tetapi aku masih sedikit beruntung, sebab pujaan hatiku bisa mengerti keadaanku.

Sampai akhirnya, di tengah menungan, aku pun mendapatkan pesan singkat dari sebuah nomor yang belum tersimpan di daftar kontakku. Dengan rasa penasaran, aku pun menyibak pesan itu, dan mulai membaca: Kami telah meneliti berkas lamaran kerja Anda, dan kami memutuskan bahwa Anda layak untuk mengikuti tahap selanjutnya. Karena itu, kami harap, Anda bisa menghadiri tes tertulis dan wawancara di kantor kami pada pukul 09.00 besok.

Aku pun jadi sangat khawatir kalau-kalau kondisi tubuhku tidak segera membaik.***

Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksepsi) atau Instagram (@ramlilahaping).

Email: ramli.fhuh@gmail.com

No. HP/WA: 082189466674

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *