Kuat Dugaan Embung Di Desa Leowalu Dikerjakan Oknum ASN, Kini Mubasir Dan Tak Pernah Digunakan

  • Whatsapp
Kondisi Embung di Desa Leowalu yang sudah rusak dan mubasir sejak dibangun pada tahun 2016 lalu. Foto pada Minggu (10/11/2019). Foto by Marselino Kardoso.

Atambua, penanusantara.com –  Sebuah Embung Di Desa Leowalu, Tepatnya Di Seleklolo, Dusun Leowalu Tas, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu Perbatasan RI-RDTL Mubasir. Embung ini dibangun pada tahun 2016 lalu dan tidak pernah digunakan lantaran langsung rusak saat musim hujan tiba.

Kuat Dugaan, Proyek Embung tersebut dikerjakan oleh salah satu oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengabdi pada salah satu OPD Pemkab Belu. ASN tersebut diduga kuat terlibat dalam pengerjaan sejumlah proyek di desa.

Read More

Oknum ASN ini disebut-sebut mengerjakan proyek jalan poros dusun (Bukan Jalan Usaha Tani, red) dan pembuatan Embung Seleklolo di Desa Leowalu, Kecamatan Lamaknen yang saat ini mubasir dan sudah rusak.

Dikatakan, Mantan anggota TPK Desa Leowalu, Maria Klorida yang ditemui, Minggu (10/11/2019), Pengerjaan jalan poros dusun ini, lanjutnya, pertama kali dikerjakan tahun 2017 dan menelan anggaran sekitar kurang lebih seratus lebih juta dan perkerasannya menelan anggaran sebesar Rp 307.840.000 di tahun 2018.

Yang diketahui Maria, pengerjaan Jalan Poros Dusun dikerjakan dari tahun 2017 dan perkerasannya dilanjutkan di tahun 2018.

“Jalan ini kerja pertama tahun 2017 sekitar seratus juta lebih, habis itu pengerasannya di tahun 2018 anggaran sekitar Rp 300an juta,” ungkapnya.

Dijelaskannya, pekerjaan jalan poros dusun ini dikerjakan oleh CV. KJ dengan kuasa direkturnya, Maria AL. Namun menurutnya yang mengerjakannya adalah oknum ASN berinisial Y.

“Yang kerja CV. KJ dan saya lihat kuasa direkturnya Ibu Maria Asuntha tapi yang kerja itu Pak Y. Dia sering datang antar material dan pantau proyek ini,” ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, proyek pengerjaan Jalan Usaha Tani (JUT) di Desa Leowalu, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu Wilayah Perbatasan RI-RDTL mubasir dan terkesan dikerjakan asal jadi.

Pantauan media ini Minggu (10/11/2019) di proyek yang menelan Anggaran Dana Desa (ADD) mencapai ratusan juta rupiah ini hingga saat ini tidak dapat digunakan akibat dari penggusuran lapangan bola kali yang menutup badan jalan hingga memutus akses jalan.

Inilah salah satu bagian jalan usaha tani senilai ratusan juta rupiah di Desa Leowalu yang diduga dikerjakan asal jadi.
Inilah salah satu bagian jalan usaha tani senilai ratusan juta rupiah di Desa Leowalu yang diduga dikerjakan asal jadi.

Salah satu warga Leowalu saat  ditemui mengatakan keheranannya terhadap pekerjaan jalan tersebut. Pasalnya, jalan tersebut sudah dikerjakan beberapa tahun terakhir dan terakhir, jalan tersebut langsung ditutupi material dan dibangun lapangan bola kaki di atas jalan tersebut.

Mantan anggota tim pelaksana kegiatan (TPK), Maria Klorida Kolo Mau mengaku tidak mengetahui proyek tersebut karena selama menjabat sebagai Anggota TPK mereka tidak pernah dilibatkan dalam urusan proyek maupun nominal anggaran proyek tetapi hanya dilibatkan dalam urusan administrasi.

“Kami tidak pernah tahu ada proyek ini anggaran berapa, kami ini  hanya urus tanda tangan lengkapi administrasi saja,”ujarnya seperti di lansir TIMORDAILY.COM.

Ia menambahkan, pengerjaan proyek dengan menggunakan anggaran Dana Desa di Desa Leowalu, hampir semuanya bermasalah.

Ia berharap agar pihak berwenang agar bisa melihat bukti fisik dari setiap Item pekerjaan yang ada di Desa Leowalu.

Selanjutnya, sebuah embung di Desa Leowalu, tepatnya di Seleklolo, Dusun Leowalu Tas, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu Perbatasan RI-RDTL mubasir semenjak dibangun pada tahun 2016 lalu.

Saat ini, kondisi embung tidak lagi terlihat seperti embung pada umumnya. Embung tersebut sepintas nyaris rata dan kering karena ketiadaan air.

Tak diketahui persis berapa anggarannya dan siapa pelaksana pekerjaanya namun diduga embung yang bernilai hampir mencapai Rp 200 juta ini dikerjakan asal jadi dan tak sesuai spesifikasi teknis (spek).

Pantauan media ini Minggu (10/11/2019), dasar embung ini kering dan tanahnya retak – retak. Di satu sisi, saluran pembuangan embung ini sudah ambruk. Tak ada sedikitpun air di embung ini, selain karena musim kemarau saat ini namun terlihat tidak pernah ada genangan air di dasar embung ini.

Diberitakan sebelumnya, Tokoh masyarakat Desa Leowalu, Dominikus Mali, Minggu (10/11/2019) membenarkan jika embung tersebut tak pernah digunakan usai dikerjakan.

“Sejak dibangun tidak sempat dipakai karena hujan datang langsung jebol karena saluran pembuangannya tidak sesuai. Sekarang sudah rusak total,” ungkap Mali.

Menurutnya, pemilik tanah maupun warga sekitar mengaku kecewa karena embung yang harusnya dibangun untuk membantu menyediakan ketersediaan air untuk pertanian ternyata tak pernah digunakan.

“Sekarang mau bagaimana lagi? Kita kecewa karena awalnya sudah disampaikan bahwa embungnya akan membantu kami, ternyata setelah dibangun tidak sempat pakai tapi langsung rusak saat hujan datang,” ungkapnya.

Menurut Mali, dirinya tidak mengerti soal konstruksi pembangunan sebuah embung namun dari pengamatan mereka, saluran pembuangan embung tersebut tidak tepat sehingga menyebabkan embung mudah jebol saat hujan dan juga diduga kualitasnya buruk.

“Embungnya sudah tiga tahun lalu tapi kalau mau ditelusuri bisa. Masa baru habis kerja, hujan datang langsung rusak. Kami kenal orang yang selalu datang antar bahan dan material untuk kerja proyek embung ini, tapi nama CVnya kami tidak tahu karena waktu itu tidak ada papan informasi proyeknya,” pungkas Mali. (TD/pito)

Komentar Anda?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *