Mengatasi Anak Belum Bisa Baca Tulis, SDI Oesapa Kecil 1 Akan Memberi Les Tambahan

  • Whatsapp
Wensislaus Kavit, S.Pd selaku kepala Sekolah SD Inpres Oesapa Kecil 1
banner 468x60

Kota Kupang, penanusantara.com – Diperkirakan anak SD di kota Kupang rata-rata hampir 20 persen bahkan 30 persen yang tidak tahu baca.

Wensislaus Kavit, S.Pd selaku kepala Sekolah SD Inpres Oesapa Kecil 1 mengatakan, faktor utama tingginya angka anak yang belum bisa baca di kota kupang karena Covid-19 yang melanda kurang lebih 3 tahun juga ikut memengaruhi dunia pendidikan.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Wensislaus juga menjelaskan, Balai Peningkatan Mutu Pendidikan Provinsi sudah melakukan tes dibeberapa kelas di SD Inpres Oesapa Kecil 1, yang di tes kelas tinggi dan kelas rendah dan ternyata kelas tinggi masih ada yang belum lancar membaca.

“Untuk kelas satu yang tahu baca baru 50 persen 30 persen masih eja-eja 20 persen itu huruf kadang kala mereka bolak balik,” ungkap Wensislaus saat di temui di ruang kepala Sekolah, Rabu (5/10/2022).

Dia juga mengatakan, hampir semua sekolah di kota kupang mengalami hal yang sama walaupun sekolah tersebut mahal.

Wensialaus bersyukur karena sekarang sudah bisa tatap muka 100 persen sehingga anak bisa berintraksi langsung dengan guru sehingga bisa membaca dan menulis.

Ia juga mengungkapkan, sebagai seorang guru tidak usah marah-marah anak tetapi harus banyak senyum dan sifat merayu serta bujuk mereka sehingga mereka tahu baca.

“Bentak-bentak anak memengaruhi psikologi anak yang nantinya dapat membuat anak takut untuk datang sekolah,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, seorang guru harus ramah, senyum dan anggaplah anak-anak sebagai anak sendiri sehingga anak senang belajar.

Wensislaus menambahkan, kebanyak anak-anak yang malas karena faktor orang tua yang sudah cerai dan merantau jahu. selain itu, ketika ada kedukaan anak-anak akan ijin seminggu untuk pulang kampung namun mereka sampai berbulan-bulan di kampung baru kembali masuk sekolah.

“Terdapat anak yang malas-malas itu karena orang tuanya sudah cerai antara suami istri, itu yang melatar belakangi anak-anak malas belajar karena kurangnya dorongan dari kedua orang tua serta status anak kurang jelas seperti tidak memiliki akte kelahiran dan hanya memiliki surat baptis saja. Faktor ijin juga karena kebanyak anak-anak dari kampung sehingga saat ijin pulang kampung saat ada kedukaan mereka bisa sampai bulan baru kembali masuk sekolah,” kata Wensislaus.

Untuk mengatasi hal tersebut SD Inpres Oesapa Kecil 1 akan mengadakan les tambahan setiap hari selasa dan kami saat jam istirahat sekitar setengah jam untuk melatih mereka sesuai tingkatan dan level kesulitan siswa.

“Level satu bagi yang belum kuasai abjad, level dua yang belum kuasai suku kata, level tiga yang susah mengeja, dan level empat sudah mengenal kalimat namun membaca masih jatuh bangun,” Jelasnya.

Wensislaus menegaskan akan melakukan evaluasi tiap enam bulan dan mendengar dari orang tua murid jika ada keluhan buruk mengenai guru wali kelas tingkat bawah akan dimutasi dan akan pindah kelas.

Laporan : Frengki Ladi

Komentar Anda?

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *