Perbankkan Sebagai Leading Sektor Pertumbuhan Ekonomi Di Tengah Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
SANI S. M. ASA, S.H. Legal BPR Danamas Belu.

Oleh : SANI S. M. ASA, S.H.
Legal BPR Danamas Belu.

Tulisan ini hanya sebuah catatan lepas ditengah maraknya Virus Corona yang kian hari kian meresahkan. Masyarakat pada umumnya setiap hari hanya pasrah dengan keadaan, apalagi dengan semua kebijakan pemerintah yang tumpang tindih. Artinya kebijakan tanpa gigih.

Read More

Penulis sengaja memberi judul tulisan “PER-BANK- KAN SEBAGAI LEADING SEKTOR PERTUMBUHAN EKONOMI DI TENGAH PANDEMI CORONA VIRUS 19. dengan tujuan agar pemerintah, baik pusat maupun daerah sadar bawah saat ini yang mampu memulihkan ekonomi adalah BANK baik Pelat merah maupun Swasta milik perorangan. Maka apa langakah yang harus diambil oleh pemerintah? Tentunya penulis tidak mungkin untuk mengajarkan ikan berenang di air laut. Akan tetapi Pandemi memaksa ekonomi kembali seperti sebelum abad ke-19, yaitu tanpa jaringan manufaktur dan transportasi global. Sektor ekonomi yang “seolah-olah hilang” adalah sektor yang selama ini menjadi pusat globalisasi, yaitu jaringan manufaktur global (global production network) serta jaringan jasa dan mobilisasi manusia (global services and transportation). Dari sisi produksi, penurunan kapasitas manufaktur berdampak pada turunnya permintaan atas energi, seperti minyak, gas, dan mineral. Pandemi juga membuat permintaan dunia atas produk manufaktur, seperti barang elektronik, kendaraan bermotor, pakaian, dan alas kaki, menurun tajam. Melemahnya jaringan produksi, permintaan global, dan mobilisasi manusia berdampak luas hingga ke sektor jasa lain, seperti akomodasi, restoran, dan perdagangan retail.

Penurunan jaringan produksi dan jasa global tecermin pada penurunan perdagangan internasional dan investasi di semua negara, termasuk Indonesia. Turunnya arus investasi dan perdagangan internasional membuat ekonomi kehilangan sumber utama pertumbuhannya. Konsumsi juga ikut turun karena hubungan konsumsi dan pertumbuhan adalah sebab-akibat. Ketika konsumsi turun, sisi permintaan ekonomi makro turun sehingga harapan bagi sumber pertumbuhan ekonomi adalah pengeluaran pemerintah. Namun ada tantangannya. Pertama, penerimaan pemerintah ikut turun akibat menurunnya aktivitas ekonomi. Kedua, proporsi konsumsi total dalam ekonomi mencapai empat kali lebih besar dari proporsi konsumsi pemerintah. Artinya, pandemi tidak hanya menurunkan sisi penawaran, tapi juga permintaan. Sebagai antisipasi, dalam jangka waktu singkat, pengeluaran pemerintah diarahkan untuk membantu konsumsi kebutuhan pokok masyarakat yang terkena dampak dengan berfokus pada penanggulangan pandemi, penyediaan jaring pengaman sosial, serta dukungan pada sektor riil dan keuangan.

Pada dasarnya, yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi adalah dunia usaha. Peran pemerintah bersifat menanggulangi dampak pandemi dan mendukung dunia usaha. Aktivitas ekonomi, baik di pabrik maupun di sektor konstruksi, transportasi, pusat belanja, restoran, hotel, dan tempat wisata, akan berbeda dari sebelum pandemi. Protokol kesehatan, seperti menjaga jarak dan menggunakan masker, akan menjadi bagian keseharian sampai vaksin dan obat ditemukan. Artinya, kapasitas produksi dan jasa saat ini tidak akan sebesar saat sebelum pandemi terjadi. Sektor-sektor ekonomi mana yang berpotensi menjadi penggerak?

Sektor pertanian, manufaktur makanan dan minuman, konstruksi, serta perdagangan dan jasa keuangan merupakan sektor yang berpotensi menjadi penggerak. Adapun sektor informasi dan komunikasi, jasa pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan kegiatan sosial merupakan sektor dominan selama pandemi. Dominan karena tingginya kebutuhan atas jasa kesehatan, pendidikan, kegiatan sosial, dan data, terutama sejak semua aktivitas, baik bekerja, belajar, maupun beribadah, harus dilakukan secara online dari rumah. Sektor penggerak dan dominan akan menjadi lokomotif bagi sektor lain, seperti transportasi, akomodasi, restoran, dan logistik.

Ketika pandemi, sektor yang paling besar terkena dampak secara ekonomi adalah yang paling kuat hubungannya dengan sektor.

Semua gambaran diatas merupakan tamparan bagi semua pihak, maka langakah strategis yang harus diambil pemerintah saat ini adalah mempererat hubungan dengan pemilik modal (BANK), dengan catatan harus penyesuaian regulasi demi eksistensi manusia, bukan menjadi panah pemburuh untuk membunuh diri. Bukan juga regulasi membuat pemerintah salah arah hilang harapan dan pasrah dengan keadaan.

Tentunya untuk menanggulangi semua pengerak kemajuan, pemerintah membutuhkan modal yang cukup besar, maka mau tidak mau suka tidak suka pemerintah harus menjadi pebisnis yang tahu akan untung rugi, kali dan bagi, agar tahu dan mampu mengukur kemampuan ekonomi jangaka panjang, jangka pendek dan jangka menenga. Maka langaka kongkrit dan strategis yang harus diambil adalah memanfaatkan lembaga keuangan (BANK) sebagai ujung tombak perbaikan dan pertumbuhan ekonomi.

Komentar Anda?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *