Sikap Integritas dalam Menolak Korupsi

  • Whatsapp
Oleh, Mario Gonzaga Afeanpah Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
banner 468x60

Oleh, Mario Gonzaga Afeanpah

Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira Kupang


OPINI,
penanusantara.com –
Kenapa ada korupsi? karena kurang bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, kenapa kurang bersyukur? karena rakus akan duniawi dan materi, Mengapa harus korupsi? Penting seorang koruptor pahami adalah bahwa tindakan korupsi itu mengakibatkan rakyat menderita. Korupsi telah menelantarkan anak-anak yang kurang mampu, putus sekolah dan lain-lain. lucu memang negeri ini perilaku pejabatnya yang korup dan tak bermoral, uang yang semestinya untuk kesejahteraan rakyat dia nikmati bersama keluarga dan koleganya. Padahal sudah punya penghasilan besar dan ansuransi seumur hidup. Dalam teori kebutuhan memang batas kepuasan tak terbatas dan tak terukur sehingga manusia serakah akan terus berusaha mengambil dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Teori kebetulan selalu saja menjadi senjata ampuh dan tepat, kebetulan jadi Gubernur/Bupati, kebetulan jadi anggota dewan, kebetulan jadi bendahara, kebetulan sebagai anggota apparatur desa, tentunya kebetulan bisa tentukan anggaran dan proyek, maka semuanya akan bisa dilakukan. Sangat mengejutkan fenomena korupsi yang muncul akhir-akhir ini, lembaga eksekutif yang telah memiliki perangkat hukum, sistem manajemen dan akuntansi yang mantap, sarana pengendalian yang cukup handal melalui program-program komputerisasi dan lain sebagainya, tetapi pada kenyataannya masih saja tetap terjadi korupsi yang jumlah pelaku dan nilai dana yang dikorup tetap tinggi, hal lain, suatu lembaga yang amat sederhana, diurus oleh orang yang secara ekonomis rendah, tidak didukung oleh manajemen dan akuntansi yang akurat, tetapi justru di sana tidak ada korupsi, semua keuangan tidak ada yang diselewengkan, para pengelolanya memiliki ketulusan yang tinggi, laporan keuangan tidak dibuat secara rumit, akan tetapi uang yang ada selamat dari kemungkinan penyimpangan, lagi-lagi, mengapa hal itu terjadi. Pertanyaannya, apakah semakin pintar masyarakat justru kemungkinan penyimpangan juga semakin besar terjadi dan begitu juga sebaliknya? Apakah orang berpengetahuan sederhana, berpendidikan rendah juga selalu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan penyimpangan terhadap pengurusan keuangan, sehingga, dari fenomena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa justru kepintaran itu yang mengakibatkan lahirnya penyimpangan keuangan yang disebut korup itu.

Anehnya di tengah masyarakat yang korup, justru orang yang tidak aman adalah orang-orang yang jujur yang tidak mau melakukan penyimpangan. Masyarakat korup ternyata juga membenci siapa saja yang jujur. orang jujur dianggap tidak menguntungkan bagi orang-orang yang menyukai korupsi, biasanya orang jujur kemudian tersisihkan, dan jangan berharap dalam proses pemilihan kepemimpinan yang berjalan secara demokratis di tengah-tengah masyarakat korup ia akan dipilih menjadi seorang pimpinan, oleh karena itu sesungguhnya tidak selalu benar pandangan yang mengatakan bahwa orang jujur itu selalu dibutuhkan di segala jenis masyarakat. justru orang jujur di tengah-tengah masyarakat korup akan selalu disisihkan.

Peristiwa ini sesungguhnya sangat memprihatinkan dan memalukan, terutama dalam ruang lingkup manusia Indonesia. Korupsi dianggap menjadi sesuatu yang biasa, wajar dan lazim dan justru menjadi aneh jika terdapat pejabat pemerintah yang mampu menjaga diri untuk tidak melakukan korupsi. Begitu besarnya dampak korupsi yang dirasakan oleh rakyat, namun mengapa tindak korupsi tidak pernah henti?

Pertanyaan di atas, secara dangkal bisa kita dapatkan jawabnya yakni, karena para pejabat-pejabat kita hanya mementingkan diri sendiri, mereka melakukannya dengan tanpa menggunakan hati nurani sedikit pun, juga karena tidak mau berfikir panjang serta rakus, walau sebenarmya mereka tahu bahwa dampak dari apa yang mereka lakukan itu membuat rakyat yang menderita, para koruptor telah melakukan korupsi terhadap uang rakyat dan yang lainnya hingga pada dana untuk orang miskin dan anak yatim, padahal, pancasila sudah terlampir jelas dan snagat mudah dimengerti, akibatnya sekali lagi, rakyat kecil menjadi korban.

Fenomena perilaku korup dinegara ini akan terus berlangsung ketika generasi hari ini tidak dibekali karakter kejujuran. Ketika kejujuran luntur dari seseorang maka semuanya akan menjadi halal dimata mereka. Sistem yang diciptakan juga tidak mampu memberikan efek jerah (Hukum), maka selayaknya sekarang ini pemerintah memikirkan dengan serius upaya untuk membuat pelaku koruptor di Negara ini menjadi jerah, salah satu opsi adalah memiskinkan mereka, dengan jalan menyita seluruh asset yang mereka miliki, agar mereka merasakan sungguh susahnya menjadi orang yang serba kekurangan, serta harus dibangun sistem untuk mencegah terjadinya hal seperti ini. Tindakan preventif bisa dilakukan dengan membuat aturan hukum melalui kode etik profesi atau mungkin juga kontrak politik bagi para pejabat. Selain aturan hukum dan sistem yang baik, upaya pemberantasan korupsi juga tergantung dari integritas pejabat pemerintah, karena konflik kepentingan yang menjadi akar korupsi hanya bisa dilawan dengan integritas yang baik. Pembenahan korupsi juga harus diawali dengan pembenahan aparatur hukum di negeri ini.

Sehingga suara yang rakyat berikan dan janji yang di buat demi rakyat, sungguh terwujud dalam etos kerja serta system yang berlaku. Jangan mengandalkan kekuasaan untuk menguasai rakyat. Hak dan kewajiban sudah pasti menjadi bagian rakyat dalam memperlancar system pemerintahan ini, namun menjadi sedih ketika hak rakyat tidak dipenuhi, sedangkan kewajiban memakan hak rakyat di jalankan terus menerus tanpa adanya rasa kemanusiaan. Apakah ini yang harus dibilang merdeka, sebaiknya dianggap mati saja, dari pada merdeka dan masih terus menjajah bangsa dan manusia Indonesia sendiri.

Harapan lain adalah agar para pejabat yang akan terpilih di pemilu nanti, tidak hanya mengobral janji-janji yang diberikan. Karena awalnya para pejabat yang kini mendapat gelar koruptor dahulu juga mengumbar janji-janji kepada rakyat, tetapi sebaliknya hanya menipu rakyat dan menyengsarakan dengan cara halus dan lembut sehingga banyak rakyat yang tertipu, oleh sebab itu, kita harus cerdas dalam memilih calon-calon pemimpin kedepan. Pemimpin yang adil adalah pemimpin dapat memakmurkan rakyat, dan mensejahterakan rakyat. Pempimpin yang adil juga dapat menumpas para pelaku korupsi. Pemimpin yang kita pilih hendaknya adalah orang-orang yang sudah terbukti tidak melakukan tindakan korupsi selama ini. Pemimpin yang akan kita pilih adalah pemimpin yang bukan mencari kekayaan selama menjabat. Kalau kita cerdas memilih wakil rakyat dan calon pemimpin masa depan dengan membuat kriteria-kriteria yang kongkrit, kita akan bisa menjaga bangsa dari petaka korupsi. Maka, dari sekarang selalu membangun sikap integritas diri yang kuat dan tumbuh kembangkan lah dalam kehidupan. Baik dari dalam keluarga hingga pada komunitas manusia yang lebih besar.

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *