Simpatisan Jeriko Gandeng Aktivis Mahasiswa NTT Diskusi Praktek Buruk Demokrasi

  • Whatsapp
Sejumlah aktivis dan simpatisan Jeriko melaksanakan diskusi.
banner 468x60

Kota Kupang, penanusantara.com – Simpatisan Jeriko melakukan diskusi dengan mengundang sejumlah aktivis mahasiswa, diskusi tersebut diikuti oleh 30 peserta yang merupakan keterwakilan dari 12 OKP Nasional dan Lokal yang merupakan organisasi mahasiswa dari berbagai Kabupaten/kota di NTT, diskusi tersebut membahas tentang partai politik dan praktek buruk demokrasi yang dilakukan Partai Demokrat, diskusi tersebut berlangsung di Teras Petuk, Kota Kupang, sabtu (26/2).

Diskusi tersebut dipimpin langsung oleh Koordinator Simpatisan Jeriko, Herison Arianto Kore, dalam pengantarnya Heri menyampaikan bahwa diskusi tersebut merupakan langkah awal menyatukan persepsi tentang fenomena praktek buruk demokrasi yang dilakukan partai politik terhadap Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Heri mengemukakan alasan mengapa Simpatisan Jeriko mengagendakan pertemuan dengan aktivis mahasiswa, karena mahasiswa adalah salah satu penggerak demokrasi yang belajar beroraganisasi.

“Kami ingin bertemu dengan teman-teman karena kami percaya bahwa teman-teman di OKP belajar tentang berorganisasi dan di dalam organisasi kita belajar tentang demokrasi, hal inilah yang menjadi alasan Simpatisan Jeriko mengundang teman-teman OKP untuk bertukar pikiran sehingga kita bisa menemukan satu titik untuk sepakat bersama-sama memperjuangkan keadilan dalam tatanan hidup berdemokrasi” ujar Heri.

Mantan Ketua BEM Unflor ini juga menyampaikan bahwa, persoalan dalam pelaksanaan Musda Partai Demokrat NTT pada tanggal 15 Oktober 2021 di Hotel Aston diikuti oleh dua calon, yakni Jefri Riwu Kore dan Leonardus Lelo, Musda ini dimenangkan Jefri Riwu Kore dengan keunggulan 12-11, namun pada tanggal 5 januari 2022, DPP Partai Demokrat mengumumkan Leo Lelo sebagai Ketua DPD Demokrat NTT via video call.

Menurut Heri, hal ini merupakan sebuah kejanggalan berdemokrasi, karena Partai Demokrat mengumumkan seseorang yang kalah sebagai ketua, oleh sebab itu, Simpatisan Jeriko menegaskan bahwa praktek buruk demokrasi seperti ini tidak boleh dibiarkan begitu saja karena akan merusak tatanan hidup berdemokrasi di masa depan.

Salah satu mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Undana mengemukakan bahwa mekanisme berdemokrasi di Indonesia hanya ada dua hal, yakni musyawarah mufakat, jika tidak ada titik temu maka hasil akhirnya adalah votting, dalam kronologis yang terjadi, Jeriko melalui semua tahapan ini dan memenangkan hasil Musda, di sini ada sesuatu pola komunikasi yang buruk dalam demokrasi, oleh sebab itu harus ada saluran komunikasi yang dibuka untuk menjelaskan persoalan ini.

“Saluran komunikasi ini bisa dilakukan jika Ketua Umum Demokrat membuka diri untuk menjelaskan persoalan ini, kalau tidak ini akan menjadi polemic panjang,” ujarnya.

Diskusi yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut melahirkan beberapa rekomendasi dukungan terhadap perjuangan Simpatisan Jeriko melawan praktek buruk demokrasi yang dilakukan Partai Demokrat, diantaranya aktivis mahasiswa dari berbagai OKP yang tergabung dalam diskusi tersebut mendukung penuh perjuangan Simpatisan Jeriko, akan mengawal proses perjuangan tersebut dengan berbagai macam varian aksi yang akan dilakukan, baik itu dialog ataupun turun ke jalan melakukan aksi damai.

Dalam kalimat penutupnya, Herison menyampaikan terima kasih atas partisipasi para aktivis mahasiswa yang bahkan telah rela memberi diri untuk terus berjuang bersama Simpatisan Jeriko melawan praktek buruk demokrasi dan upaya pembunuhan karakter seorang pemimpin yang dilakukan oleh Partai Demokrat. (*pn)

Komentar Anda?

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *