Songsong Hibah Dikti, Prodi PJKR UKAW Gelar Sharing Session and Clinic Menyusun Proposal PDP

  • Whatsapp
Strategi Menyusun Proposal Penelitian Dosen Pemula” yang diselenggarakan Sabtu (15/01/2022) di ruang Pascasarana, UKAW.

Kota Kupang, penanusantara.com – Mendukung dosen dalam berbagai kegiatan pengembangan diri di level lokal, nasional, regional, dan bahkan internasional merupakan tanggung jawab lembaga, termasuk Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Artha Wacana. Salah satu kegiatan dan atau kesempatan bagi Ibu/Bapak dosen untuk berkiprah di level nasional ialah dengan mengompetisikan gagasan kritisnya melalui hibah penelitian dosen pemula (PDP).

Pada tahun 2022, Dikti kembali memberi peluang kepada para dosen di seluruh Indonesia untuk mengajukan proposal penelitian yang akan didanai. Sebagai dana hibah, tentu memiliki standar yang wajib dipatuhi oleh para pelamar. Standar ini tidak hanya soal konten semata, melainkan juga tentang teknisnya. Untuk itu para pelamar harus benar-benar menawarkan gagasan yang kritis serta taat asaz terhadap template yang diterbitkan sponsor (pemerintah).

Read More

Prodi PJKR FKIP UKAW menyadari bahwa kesempatan berharga ini hanya datang sekali setiap tahunnya. Oleh sebabnya, persiapan harus dilakukan secara maksimal agar proposal yang Ibu/ Bapak dosen ajukan berpeluang untuk didanai. Upaya ini kemudian dioperasionalkan dengan membuat “Sharing Session and Clinic Strategi Menyusun Proposal Penelitian Dosen Pemula” yang diselenggarakan Sabtu (15/01/2022) di ruang Pascasarana, UKAW.

Kegiatan swadaya ini di buka langsung oleh Dekan FKIP, Andreas J. F. Lumba. Eks Wakil Rektor III era Frankie J. Salean ini menyampaikan dukungan dan apresiasi kepada Prodi dan panitia pelaksana, serta para mahasiswa yang terlibat sebagai master of ceremony (Kristina Ambu Kaka) dan moderator (Agustina H. Mauk). Lanjutnya, dosen yang mulai meniti karir sebagai seorang penulis dan peneliti akan sangat membantu ke depannya. Berbekal kemampuan menulis, karir dosen lebih cepat maju karena untuk meningkatkan jabatan fungsional dan pangkat, selalu harus melalui publikasi artikel ilmiah.

“Kita harap Prodi selalu memperhatikan kebutuhan dosen, khususnya dalam aktivitas menulis dan publikasi, karena dalam menulis dan meniliti kita dosen Prodi PJKR masih banyak berbenah diri. Lalu, kita semua saling membuka diri untuk mulai berkolaborasi agar bisa menghasilkan penelitian dan artikel ilmiah yang berkualitas. Saya juga berharap agar kegiatan ini secara periodik dilakukan, kalau bisa dilakukan setiap bulan atau per triwulan lalu hasil penelitian juga di back-up agar bisa terpublikasi di level nasional dan bahkan internasional,” tutup eks juru taktik Cristal FC ini.

Data Prodi mencatat bahwa hingga tahun 2021, hanya 16,6% yang pernah lolos hibah PDP (2 sebagai ketua dan 1 sebagai anggota). Artinya, ada 83,3% dosen lainnya belum dan bahkan melewatkan kesempatannya sebagai ketua dalam hibah PDP. PDP hanya menyaratkan dosen yang belum berfungsional dan atau berfungsional Asisten Ahli (AA) dengan kualifikasi S2 yang berperan sebagai ketua. Sedangkan kualifikasi S3 dan berfungsional Lektor tidak masuk dalam syarat PDP. Artinya, dengan jumlah dosen yang belum berfugsional dan berfungsional AA (55,5%), mereka berkesempatan menggunakan peran ketua sebelum fungsionalnya Lektor atau kualifikasinya S3.

Kegiatan ini sebenarnya diprakarsai untuk 10 dosen PJKR yang memenuhi syarat hibah PDP. Namun antusias peserta juga datang dari luar Prodi PJKR, seperti Zuvyati A. Tlonaen dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Bahkan ada juga peserta dari luar UKAW, sebut saja Yessy F. Atty dari STKIP Sinar Pancasila Betun, Rudobertus Talan, Florianus A. Nay, Beatrix Purnama Sari  dari Universitas San Pedro, dan Maria Goreti Malut, Yustina Alfira Nay dari Universitas Katolik Widya Mandira. Ini mengisyaratkan bahwa upaya untuk menghasilkan proposal PDP yang berkualitas agar didanai menjadi kebutuhan penting dalam pengembangan diri Ibu/ Bapak dosen.

Materi yang ditawarkan dalam acara tersebut menarik, rinci, dan operasional sesuai kebutuhan atau indikator penilaian, seperti: 1) rasionalisasi kultur publikasi bagi dosen, 2) syarat penelitian dosen pemula, 3) menentukan dan menyusun TKT yang tepat, 4) rumusan judul yang “provokatif”, 5) menyusun ringkasan yang “ringkas”, 6) strategi menyusun pendahuluan yang efektif, 7) mengembangkan kajian pustaka yang kritis, 8) meramu metode penelitian yang kredibel, dan 9) strategi menentukan aggota tim peneliti.

Secara kuantitas peserta dibatasi 15 orang agar aktivitas peserta lebih diperkuat pada latihan, klinik, dan evaluasi. Peserta yang terbatas tersebut akan memberikan kesempatan yang lebih besar kepada fasilitator dan peserta untuk melakukan diskusi, peninjauan, dan evaluasi terhadap hasil kerja proposal PDP sesuai template. Harapannya agar semua proposal yang dihasilkan dalam kegiatan sharing session and clinic ini lolos untuk pendanaan hibah PDP.

Narasumber yang juga merupakan Ketua Prodi PJKR menyampaikan bahwa menulis adalah keterampilan. Sehingga dengan mengetahui berbagai strategi menulis dan menyusun proposal, idealnya perlu ditindaklanjuti. Berbekal motivasi dan semangat ingin berkembang, pengetahuan tentang strategi menulis itu harus dilakukan setiap hari agar tulisan yang kita hasilkan terperbaharui dari waktu ke waktu. Setiap sponsor memiliki standar/ selingkung sehingga apabila proposal yang kita ajukan tidak memenuhi, pasti ditolak. Untuk itu, hari ini kita mulai melatih dan mengeksplorasi berbagai potensi menulis kita agar proposal yang diajukan dapat didanai.

“Konsep kegiatan ini ialah berbagi bukan menggurui, apalagi pencitraan. Kebetulan ada pengalaman lolos hibah Dikti, baik PDP dan Riset Dasar serta sebagai penulis jurnal, serta reviewer Sinta 2. Penting agar pengalaman dibagikan, agar rekan-rekan dosen lainnya juga bisa lolos hibah nasional. Dampaknya apa? Kita harap ini akan berdampak langsung pada meningkatnya kualitas bimbingan dan pengujian skripsi mahasiswa. Serta yang tidak ketinggalan ialah meningkatkan kompetensi dosen untuk persiapan meningkatkan fungsional dan mengikuti sertifikasi dosen,” imbuh Jusuf.

Dengan bertambahnya angka partisipasi dosen pada hibah kompetisi nasional, tidak hanya akan berdampak pada kompetensi dosen. Melainkan juga turut serta mempengaruhi budaya akademik di kampus yang tercermin melalui kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian, serta penunjang tugas utama dosen, serta membudayakan peran sejawat untuk saling mendukung dalam pengembangan karir. (*pn)

Komentar Anda?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *