Tak Ingin Asing Dengan Budaya Sendiri, Sosok Ini Populerkan Danding dari Perantauan

  • Whatsapp
Nardi Virgo (doc. pribadi)
banner 468x60

Borong, penanusantara.com – Danding merupakan seni suara dan tari yang mengandung muatan ontologis dan epistemologis serta syarat muatan filsafat, moral hidup orang Manggarai, seperti, kejujuran, terbuka, egaliter, kerja keras, percaya diri, motivasi, usaha, tanggungjawab, inisiatif, kemauan kuat, kasih sayang, kerjasama, berpikir logis, kemampuan pemecahan masalah, serta berkonsentrasi pada tujuan.

Sebagai sebuah seni suara dan tari, Danding dilakukan secara bersama-sama. Irama tari danding harus seiring dengan jenis lagu yang sedang dinyanyikan. Dalam lagu Danding ada Sako, Wale dan Sual. Sako adalah cara untuk memulai satu lagu tertentu dalam irama danding. Ketika Sako sudah selesai selanjutnya diikuti dengan Wale. Wale dijawab secara bersama-sama. Antar Sako dan Wale bisa dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang berada dalam lingkaran danding itu sendiri. Sedangkan sual adalah cara mengalihkan satu gaya atau variasi danding yang selanjutnya akan dilanjutkan dengan Wale.

Read More

banner 300250

Seiring perkembangan zaman, danding seperti sepi peminat, orang-orang muda Manggarai jarang menyanyikan lagu danding apalagi mempraktekkan tari Danding.

Melalui Channel YouTube Mb∆te Am€, Nardi Virgo mempopulerkan lagu Danding Manggarai dengan kombinasi musik modern.

Tertarik dengan karyanya, media ini mencoba menghubunginya via pesan WhatsApp, Minggu (26/9).

Dirinya mengatakan kondisi dan minat danding oleh generasi dan masyarakat Manggarai secara keseluruhan semakin pudar.

“Takut kehilangan Mbate Dise Ame, Redong Dise Empo, maka tugas mulia dari seorang yang mencintai budaya dan memiliki tanggungjawab penuh terhadap pelestarian budaya maka saya mempopulerkan lagu danding ini,” ungkap Alumni Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Santo Paulus Ruteng itu.

Dirinya prihatin dengan masa depan generasi Manggarai yang bakal kehilangan jati dirinya.

“Tentu kita tidak mau generasi muda Manggarai merasa asing dengan lingkaran budaya sendiri. Maka saya mencoba untuk melanjutkan karya yang diwariskan oleh orangtua karena secara pribadi saya sangat merasakan sebagai pribadi yang lahir dan dibesarkan oleh budaya. Itu semua berkat talenta yang luar biasa dari bapak saya,” ujar putra dari Bapak Dominikus Jehadut itu.

Nandik, demikian ia disapa mengisahkan sejak usia SD sampai sekarang, bapaknya selalu mengingatkan beliau agar jangan lupa budaya Manggarai.

“Neka oke kuni agu kalo, pesan bapak kepada saya,” ungkapnya.

Putra kelahiran Deru, Kecamatan Kota Komba Utara, Manggarai Timur yang saat ini mengaduh nasib di Tanah Sampit Kalimantan Tengah itu mengharapkan agar orang mudah Manggarai selalu membiasakan diri dengan Danding.

“Untuk ase kae Manggarai agar kalau boleh sebagai bentuk pembiasaan, maka setiap ada acara nikah mulailah dengan danding. Ini penting. Saya biar jauh di tanah rantau tetapi budaya Manggarai selalu menghidupi saya,” ungkapnya.

Kepada pemerintah dirinya berharap agar memperhatikan Danding sebagai bagian dari budaya Manggarai agar eksistensinya tetap terjaga sekaligus untuk mendukung kemajuan Flores umumnya dan Manggarai Timur khususnya dari sektor pariwisata.

“Pemerintah wajib melestarikan budaya Danding dalam setiap momen, jangan hanya fokus mengembangkan obyek wisata lainnya akan tetapi secara khusus memperhatikan Danding ini. Danding tidak kalah jauh dari Gawi dan Ja’i. Kalau Gawi dan Ja’i bisa go internasional, mengapa danding tidak? Apa yang kurang dengan Danding? Danding kaya dengan ragam bahasa yaitu goet-goet dan ragam tarinya. Tentu menarik wisata domestik maupun mancanegara jika dikelola dengan baik,” tutup mantan Guru SMAK Santo Arnoldus Mukun itu. (Kontributor, Silva Jr.)

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *