Willy Lay, Dokter yang Mampu Obati Kerinduan Rakyat

  • Whatsapp
Willybrodus Lay
banner 468x60

Atambua, penanusantara.com – Willybrodus Lay adalah salah satu putra terbaik Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur. Willy, begitu sapaannya dari masa kecil sampai menyelesaikan studinya.

Willy lahir dari keluarga sederhana, Willy adalah anak ke-8 dari 10 bersaudara di keluarganya. Ibunya meninggal pada saat ia masih kecil. Karakter kepemimpinannya telah terbentuk sejak ia masih kecil, ia mampu memberi kasih sayang lebih terhadap saudaranya yang lain.

Read More

banner 300250

Masa remaja dilaluinya sama seperti remaja lain, proses pencarian identitas, sosialisasi dengan masyarakat dan teman sebaya dilakukannya. Di usia remajanya, ia sudah diajarkan cara berbisnis oleh ayahnya.

Willy menyelesaikan SD dan SMP di tanah kelahirannya dan SMA Budi Luhur Surabaya, tamat SMA kemudian melanjutkan studinya ke Universitas PGRI Kupang.

Tak sangka keberuntungan dan berkat berpihak kepadanya. Ia memulai karier usahanya pada tahun 1985. Ia memulai dunia bisnisnya dengan menjadi seorang kontraktor, dengan mendirikan PT. Dian Nusa Lestari. Awalnya ia melayani wilayah Dili, Timor Timur, pada saat itu. Semua hasil kerjanya selalu memuaskan masyarakat pada saat itu.

Setelah ia berhasil merintis usaha di Dili, ia kembali ke Kabupaten Belu dan menjadi kontraktor pembangunan infrastruktur baik jalan, irigasi, perumahan, bandar udara dan pelabuhan, yang memuaskan pemerintah.

Willy menikah dengan Lidwina Viviawaty pada tahun 1995. Menurutnya, sosok Vivi adalah sosok yang mampu memberi motivasi dan kekuatan baginya menjalani kehidupannya. Melalui pernikahan ini, ia dianugerahi tiga orang anak, yakni Jason, Ilen, dan Jon.

Bermula dari keinginan Willy Lay yang ingin memberikan sebuah karya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat dan tentu mengenalkan Kabupatennya yakni Belu NTT yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste.

Ia terjun ke dunia politik pada awalnya dengan bergabung bersama Partai Golongan Karya dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan hingga ia menetap di Partai Demokrat. Selanjutnya ia menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Belu selama dua periode berturut-turut, yaitu pada periode 2006-2011 dan 2011-2016.

Pada pemilihan umum Bupati Belu 2015 ia berpasangan dengan wakilnya , J. T. Ose Luan, dengan nama “Paket Sahabat” terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Belu periode 2016-2021.

Dari hasil rekapitulasi 12 kecamatan, paketnya meraih 40.907 suara atau 47,20 persen, menyusul Valens Pareira-Cypri Temu (Fansmu-NKRI) dengan jumlah suara, 36.504 atau 42,12 persen dan terakhir, pasangan Ventje Abanit-Bona Bowe (Venna) dengan jumlah suara 9.255 atau 10,68 persen, berdasarkan Keputusan KPU Nomor 41/KPP/SKPU-kab-018433934/2015 tanggal 22 Desember 2015.

Pelantikannya sebagai Bupati Belu berlangsung pada 17 Februari 2016, oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya. Ia dilantik di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, bersama sembilan kepala daerah di provinsi NTT terpilih lainnya.

Willy merasa diri dilahirkan di Belu, dibesarkan di Belu, mengabdi di Belu wajib hukumnya untuk membangun Belu.

Willy Lay bukan seorang dokter manusia atau dokter hewan, Willy Lay juga bukan seorang dokter spesialis, bukan juga seorang dokter umum.

Tidak heran kalau Willy Lay tidak membuka tempat praktek, karena ia bukan dokter. lebih dari itu, Willy Lay sosok dokter Parawisata, dokter birokrasi dan dokter budaya untuk masyarakatnya. Ia mampu menyembuhkan kerinduan masyarakatnya, ia mampu mengobati angan-angan rakyat agar Belu bisa dikenal dunia.

Pembawaannya tenang. tidak banyak bicara. yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana bekerja sebagai bentuk sumbangsih terhadap pembangunan di Kabupaten Belu.

Semenjak Memimpin Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste itu, keduanya fokus untuk melakukan sesuatu yang berguna dan bermanfaat kepada masyarakat.

Katakan saja Fulan Fehan, Fulan Fehan yang diangkat ke permukaan dan dipromosi dengan Festival Fulan Fehan dinilai sebagai tempat wisata dataran tinggi terpopuler di Indonesia.

Fulan Fehan terpilih sebagai wisata alam terbaik dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2021 yang digelar di Labuan Bajo, Kamis (20/5/2021) lalu.

Fulan Fehan dalam API 2021 itu menyisihkan dua tempat wisata dataran tinggi masing-masing, Puncak Tempurung Garden, Kabupaten Surolangon pada tempat kedua dan Bukit Bukit Holbung, Kabupaten Samosir pada tempat ketiga.

Penghargaan API 2021 itu diterima Bupati Belu, Taolin Agustinus.

Di susul Willy Lay memperkenalkan Budaya Belu yakni tarian likurai dengan pergelaran yang dinamai Festival Fulan Fehan.

Dilansir dari tagar.id, Tarian Likurai Menampilkan 6.000 penari pelajar dari tiga kabupaten perbatasan di Pulau Timor dan pelajar dari Timor Leste, Tarian Lukurai ditetapkan masuk dalam rekor dunia oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) di puncak bukit Fulan Fehan, Kabupaten Belu.

Muri waktu itu juga mengapresiasi Pemda Belu yang tetap mempertahankan budaya asli masyarakat setempat dengan menggelar tarian tersebut dengan koreografernya adalah Eko Supriyanto.

Mereka berharap agar setiap masyarakat di daerah manapun bisa menjaga dan melestarikan kebudayaannya dan tetap mewariskan secara turun temurun kepada anak cucu mereka.

Koreografer tarian Likurai Eko Supriyanto mengaku kaget dengan rekor dunia yang diberikan MURI kepada tarian yang dibentuknya dengan menghadirkan 6.000 penari tersebut.

Bagi Willy kecenderungan orang di Belu lebih berpikir hal yang besar. semua selalu berpikir bagaimana menciptakan sesuatu yang besar. pola pikir ini yang harus ia rubah, bahwa untuk mendapatkan hasil yang besar harus melalui hal kecil dan sederhana. Jika kita sudah bisa me-manage hal sederhana, maka otomatis yang besar akan lebih mudah.

Seperti halnya yang ia lakukun, menterjemahkan keinginan pemerintah pusat yakni pelayanan birokrasi yang lebih mudah.

Sampai saat ini, Kabupaten Belu merupakan daerah yang memiliki pelayanan publik terbaik di NTT.

Sesuai data yang dihimpun media ini, Pemerintah Kabupaten Belu dibawah kepemimpinan Bupati Willybrodus Lay dan Wakil Bupati JT Ose Luan saat itu bekerja keras memberikan pelayanan publik yang berstandar.

Mal atau Plaza Pelayanan Publik Atambua ini merupakan karya pembangunan monumental di masa kepemimpin Bupati Willybrodus Lay-J.T Ose Luan.

Inovasi baru yang dicita-citakan pemerintah kala itu dan masyarakat Belu itu diimplementasi secara serius oleh pemerintah dengan membangun Plaza Pelayanan Publik Timor Atambua di gedung lama Kantor Bupati Belu, tepatnya di samping Gedung DPRD Belu.

Plaza Pelayanan Publik Timor Atambua sudah mengintegrasikan perizinan maupun non perizinan publik di Belu dengan sejumlah organisasi perangkat daerah dan instansi vertikal lainnya.

Prestasi ini juga mengangkat nama pemerintah Kabupaten Belu dan juga pemerintah Provinsi NTT di tingkat nasional. untuk itu, prestasi ini tetap dipertahankan dan bila perlu ditingkatkan.

Bahkan Peresmian Mal Pelayanan Publik Timor Atambua oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Abdullah Aswar Anas.

Menteri PAN-RB, Abdullah Aswar Anas dalam sambutannya mengatakan Presiden Joko Widodo sangat perhatian serius daerah perbatasan. Karena itu, dirinya memilih datang ke Belu.

Disebutkan, Mal Pelayanan Publik Timor Atambua, merupakan yang pertama di NTT. Untuk Indonesia, Banyuwangi yang menjadi pertama.

Etika yang ditanamkan kedua orangtuanya untuk rendah hati, tidak sombong menjadi prinsip hidup, bagi Willy uang begitu banyak masuk ke kas daerah. sekarang tinggal bagaimana mengelola uang itu untuk pembangunan.

Pada masa kepemimpinan Willy Lay dan Wakil Bupati Belu J.T. Ose melakukan pembangunan kawasan wisata rohani, yakni membangun Patung Bunda Maria dan Taman Doa, hal itu merupakan salah satu langkah untuk memunculkan sebuah ikon yang bisa mengangkat nama Belu dari sisi pariwisata yang berbasis rohani.

Pembangunan Patung yang terletak di Bukit Teluk Gurita di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, kini menjadi viral dan menjadi buah bibir di kalangan masyarakat NTT.

Lokasi Teluk Gurita yang berada di perbatasan RI-RDTL itu tidak saja menjadi perbincangan warga NTT, tetapi juga warga Indonesia pada umumnya dan warga negara tetangga Timor Leste bahkan warga di se Asia Tenggara.

Dilansir dari GerbangNTT. Com, Patung Bunda Maria itu dibangun setinggi 32 meter, sementara tempat pentatahan patung setinggi 9 meter sehingga ketinggian patung mencapai 41 meter. Dikabarkan, patung “Bunda Pelindung Segala Bangsa” itu tertinggi di NTT setelah Patung Bunda Maria di Bukit Keling-Nilo, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita Kota Maumere Kabupaten Sikka, Provinsi NTT dan bahkan tertinggi se Asia Tenggara setelah setelah Patung Bunda Maria Assumpta di Goa Maria Kerep Ambarawa (GMKA) Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Keberadaan Patung Bunda Maria itu, tentu saja menjadi ikon baru yang merupakan geliat Pemerintah Daerah Belu dibawah nahkoda Bupati Lay dan Wakil Bupati Ose Luan untuk terus mendorong potensi kota kecil di beranda depan NKRI itu untuk terus dilirik dan dikunjungi banyak orang baik local maupun manca negara.

Meskipun pada Pilkada tahun 2020 lalu, Willy Lay tidak lagi terpilih menjadi Bupati Belu, sosok Willy Lay yang rendah hati inilah yang membuat Agus Harimurti Yudhoyono kembali mempercayakannya untuk  memimpin ketiga kalinya partai demokrat pada tahun 2022.

Selain menjadi Ketua DPC Demokrat Kabupaten Belu saat ini, Willy Lay kini kembali beraktifitas sebagai seorang petani. Ia tetap konsisten bertani, karena dulunya ia selalu mengajak masyarakat, makanya ia buktikan.

Bagi Willy dari usaha pertanian bisa mensejahterakan petani.

Willy Lay, sosok itu pun merdindukan rakyat belu dan sebaliknya rakyat belu merindukan sosok yang sederhana itu.

Willy Lay tidak akan pernah melupakan rakyatnya, baginya rakyat belu selalu ada dalam hatinya. (pn)

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *